Tampilkan postingan dengan label DI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juli 2017

Kerjasama Industri Strategis Bersama Turki

Senilai US $ 520 millionKunjungan resmi Presiden RI, Jokowi selama dua hari di Ankara, Turki, menghasilkan kerjasama industri strategis mencapai US $ 520 million. Kerjasama dalam membangun dan produksi ini melibatkan BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis). Berikut sekilas rangkuman dari berbagai media.

https://i.ytimg.com/vi/_NJWpzP-WHA/maxresdefault.jpg

Bersama PT PAL Indonesia, perusahaan energi Turki, Karadeniz akan membangun 4 unit kapal pembangkit listrik untuk Indonesia. Kesepakatan ini dicatat senilai US $ 320 million. [wikimedia]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcZ-JZl3ABQiQfTwnTCcWh4yoRT8CRh_CFdtxdWwt6gpPi371jkPg6ovnXCebrznN2EivvWTH0oGNGWqFG0MZGdyx3IX9XZPBiilpVYbgd9cd7qn8zodWsk9NYEzcMck__Em2tGaItBwU/s1600/type212_9.jpg

Juga dalam MoU yang disepakati bersama, Indonesia melalui BUMNIS, PT PAL akan kerjasama dengan galangan kapal Turki membangun kapal selam dari desain yang pernah ditawarkan sebelumnya tipe U214. [google]
https://keliping.files.wordpress.com/2017/02/n245-dua.jpg

Dengan PT Dirgantara Indonesia juga disepakati kerjasama membangun pesawat CN 245 kedepan. Selain itu juga PT DI menawarkan pesawat barunya, N219. [PT DI]
http://dirilispostasi.com/images/uploads/iha_(3).jpg

Kesepakatan bersama PT DI ini juga membolehkan BUMNIS membangun secara lisensi dan memasarkan pesawat tanpa awak UAV TAI Anka di wilayah Asean. Indonesia sendiri membutuhkan UAV MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini untuk patroli di wilayah perbatasan. Kesepakatan ini diyakini senilai US $ 200 million. [dirilispostasi]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnqtJO5HgP_vuxNX1j2QG_7vuvnLR81cn6_KSQ_fxTDebUe2S611AyhAvu7f_JYCh8nCoiOKaSq02OOiQl5pmVTs7hovgFvO_5Cexe_i5jvNVRjxshd8_r2R3a9JLhLDwC5NA2pcaya7we/s1600/361786.jpg

Untuk kebutuhan darat, PT Pindad telah memulai kerjasama dengan FNSS Turki, membangun ranpur medium tank Kaplan dan akan dipamerkan kepada umum pada HUT TNI bulan Oktober tahun ini. [FNSS]

Proyek kedepan PT Pindad juga akan membangun dan memproduksi truk bersama Turki. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kesepakatan ini di harapkan dapat diproduksi secepatnya, bukan hanya kesepakatan dalam MoU saja. [Ilustrasi/youtube]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYIzEzZmEmLq_2OIBXl8V0z740Oa6jPK0AqzXKt_QaGWnXbO7IBEDDM874aDaFwpPsp5KYwmiJTUsAko7Glwp3DgQIp8M0BXQ_Q4T8npc-Dcko-enVhUk-Ms4c-F6-OdNmBnrFPnydkEk/s1600/Manpack+Alkom+FISCOR-100+Alat+Komunikasi+Anti+Sadap+dan+Anti+Jamming+Buatan+PT+LEN.jpg

Sedangkan PT LEN akan berkerjasama memproduksi sistem alat komunikasi bersama Turki. [Ilustrasi/google]
   Garuda Militer  

Nepal Pesan Pesawat Militer PT DI

Kontrak telah ditandatanganihttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPK4_mAiP7mUHEf3_iKYWYcTrkrpRBEr8SEFmM032sSf_d4Dc8eJX_oYO4p1qKSz6XjtfP7vBaCMvFbYXSmX5toTQ7vH6qBerpU7WEraVr5vLzTFn5lwCS0cNEyfW2HIdyrFkQ8uYmleA/s1600/cn-235-dakar.jpgPesawat CN 235 AU Senegal [PT DI]

PT Dirgantara Indonesia (Persero) baru saja menandatangani kontrak pembuatan satu unit pesawat dari Nepal. Diharapkan pembuatan pesawat selesai sekitar 18 bulan.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, penandatanganan kontrak ini juga diharapkan dapat meningkatkan pasar PT Dirgantara Indonesia di Asia dan Afrika.

Kontrak pembuatannya untuk CN235 1 unit. Ini akan memperbanyak pasar pesawat itu di Afrika,” kata Harry saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (9/7/2017).

Sebelumnya, PT DI juga telah mengirimkan pesawat jenis yang sama ke negara Afrika, yaitu Senegal sebanyak 1 unit. Bahkan saat ini Senegal menambah pesanan satu unit lagi ke PT DI dan saat ini tengah dikerjakan.

Harry menuturkan, untuk pesanan pesawat dari Nepal ini, akan dikerjakan oleh PT DI kurang lebih selama 18 bulan. “Jadi akan di deliver tahun depan,” tegas Harry.

Mengenai kemampuan CN235 yang diinginkan Nepal adalah pesawat yang dikhususkan untuk transportasi militer. “Untuk harganya, sangat variatif, tergantung pesanannya untuk apa, transportasi, patroli atau yang lainnya. Kalau patroli itu lebih mahal,” tutur Harry.

Perlu diketahui, saat ini PT Dirgantara Indonesia dan CASA menjadi dua perusahaan yang memiliki lisensi Airbus dalam memproduksi CN235. Hanya saja, dalam kesepakatannya, CASA memiliki hak pasar di wilayah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sedangkan PT DI memiliki hak pasar di luar dua benua tersebut.

   Liputan 6  

Minggu, 18 Juni 2017

Nepal Pesan Cn 235-220M

Penanda-tanganan kontrak dengan Angkatan Darat Nepal [PTDI]

Kabar menggembirakan datang dari Republik Federal Demokratik Nepal.

Direktur Utama PTDI, Budi Santoso dan Pejabat Angkatan Darat Nepal, Mayor Jenderal Purna B. Silawal menandatangani Kontrak Penjualan Pesawat CN235-220M Multi Purpose Aircraft (16/6) di Kantor Pusat Angkatan Darat Nepal, Bhadkali, Khatmandu, Nepal.

Pilot Angkatan Darat Nepal, Mayor Jenderal Sudhir Shrestha dan Komisaris PTDI, Isfan Fajar Satriyo turut menyaksikan proses penandatanganan tersebut.

Pesawat CN235-220 Military Transport yang dibeli Angkatan Darat Nepal memiliki 5 konfigurasi yaitu untuk VIP, Troop/Paratroop, Medical Evacuation, Passanger Transport dan Cargo.
 

  Instagram  

Rabu, 14 Juni 2017

Jepang Siap Kerjasama Transfer Teknologi Ke Indonesia

MAST Asia 2017 Model pesawat US-2 amfibi pada pameran MAST Asia 2017. (IHS Markit/Ridzwan Rahmat)

Perusahaan pembuat pesawat Jepang, ShinMaywa menyatakan bahwa pihaknya siap memberikan transfer teknologi pesawat US-2 dengan perusahaan lokal, jika pesawat amfibi US-2 dipilih Jakarta, dimana perakitan akhir dapat dilakukan di Indonesia.

Berbicara kepada Jane (13/06) di pameran MAST Asia 2017 di Tokyo, Masayuki Tanaka, divisi ekspor ShinMaywa, memastikan bahwa perusahaan tersebut siap untuk memberikan konsesi transfer teknologi sesuai dengan kebijakan akuisisi pertahanan Jakarta.

Namun, dia mencatat bahwa ini akan sangat tergantung kepada pemerintah Jepang, yang memimpin kesepakatan potensial tersebut. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dilaporkan mempertimbangkan kontrak awal untuk mengakusisi tiga pesawat US-2.

Meskipun ada beberapa pilihan untuk mendistribusikan pekerjaan di platform ini, secara logistik sangat menantang dan mahal untuk mengangkut komponen pesawat terbang utama yang akan dikumpulkan di Indonesia, kata Tanaka, yang mengemukakan bahwa pengaturan semacam itu bisa berakhir dengan biaya lebih banyak ditanggung pelanggan.

Bisa jadi lebih layak bagi pesawat yang akan dikirim sepenuhnya dirakit dengan konfigurasi akhir yang harus dilakukan di negara pelanggan, tambahnya, menyebut produsen pesawat terbang milik negara PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra kerja sama.

Namun, Tanaka tidak dapat memberikan indikasi kapan kesepakatan untuk AS-2 akan terwujud, menambahkan bahwa perundingan antara kedua pemerintah tersebut sedang berlangsung.

  Indonesia Teknologi  

Senin, 12 Juni 2017

5 BUMN Ikuti Pameran Mast Asia 2017

✈ Di Tokyo PT Pindad (Persero) yang tergabung dalam klaster National Defence and High-Tech Industry (NDHI) Kementerian BUMN dalam paviliun Indonesia mengikuti pameran Maritime/Air Systems & Technologies for Defence, Security and Safety (MAST Asia) yang diselenggarakan pada 12-14 Juni 2017 di Tokyo, Jepang.

Kementerian BUMN hadir di MAST Asia diwakili oleh klaster NDHI & NSHI yang menampilkan berbagai mock up beserta poster produk. 5 BUMN yang hadir langsung yaitu PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Pal Indonesia, PT Len Industri dan PT Dahana. Adapun BUMN yang tidak hadir langsung diwakili oleh poster produk.

Partisipasi Indonesia dalam pameran teknologi sistem maritim dan udara ini untuk menunjukkan berbagai kemajuan teknologi, khususnya di bidang industri pertahanan yang tidak kalah dengan negara lain. Indonesia Bersama Jepang dan India merupakan wakil dari Asia yang mengikuti event ini.

Pindad menampilkan mock up dan poster produk maritim serta produk unggulannya seperti Anoa Amphibious yang dapat beroperasi di perairan dan darat, Anoa yang turut beroperasi dalam misi perdamaian internasional serta tank boat Antasena yang dilengkapi canon 105 mm dan memiliki daya hancur besar.

Produk lainnya yang ditampilkan antara lain, kendaraan lapis baja Badak yang dilengkapi canon 90 mm, prototype medium tank pengembangan Bersama dengan FNSS, senjata dan munisi yang telah memenangkan berbagai lomba tembak internasional, serta produk industrial seperti peralatan kapal laut, ekskavator, komponen transportasi dan alat mesin pertanian.

MAST Asia adalah event trade-show, konferensi pertahanan dan community enabler internasional terbesar di Jepang yang diikuti oleh industri pertahanan dari berbagai negara di dunia. Tahun depan akan diselenggarakan MAST Indo-Asia di India.

  Pindad  

Kamis, 08 Juni 2017

Senegal Berminat Beli Pesawat, Kapal dan Kereta Indonesia

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/pesawat-terbang-cn235-220m-multi-purpose-melakukan-ferry-flight-di-_161227175018-166.jpgIlustrasi - Pesawat CN235-220M pesanan Senegal [republika]

Pemerintah Senegal dalam Forum Bisnis Indonesia-Senegal pertama di Dakar pada Rabu (7/6) menyampaikan minat untuk membeli pesawat CN-235, kapal feri dan kapal tanker, serta kereta api buatan Indonesia.

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dalam pertemuan bisnis tersebut, pihak Senegal menunjukkan minat yang besar terhadap pembelian pesawat CN-235 yang ke-3 dan ke-4, serta penjajakan pemesanan kapal feri penumpang 500 kursi dan kapal tanker, kata Duta Besar RI untuk Senegal Mansyur Pangeran.

Selain itu, lanjut Dubes Mansyur, Senegal juga berminat untuk membeli kereta api buatan PT. INKA untuk proyek pembangunan prioritas "Plan Senegal Emergent" (PSE) di sektor perkeretaapian yang menghubungkan Dakar-Tambacounda dan Dakar-St. Louis.

Dia menambahkan, dalam pertemuan antarpelaku bisnis di Forum Bisnis Indonesia-Senegal itu Presiden Dewan Perkapalan Senegal juga menyampaikan keinginan untuk membeli tiga kapal buatan PT. PAL, yaitu satu kapal tanker ukuran 10 ribu ton dan dua kapal kargo ukuran 20 ribu ton.

Dubes Mansyur menyampaikan bahwa forum bisnis itu bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Senegal, khususnya di bidang perdagangan dan bisnis.

"Peristiwa ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena selama lebih dari sepuluh tahun menjalin hubungan bilateral, forum sejenis baru pertama kali diadakan," ujar dia.

Forum bisnis itu diharapkan dapat meningkatkan interaksi dan kegiatan saling kunjung antarpelaku bisnis untuk mencari peluang yang sangat terbuka antara kedua negara.

Forum bisnis tersebut dihadiri oleh sekitar 100 pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian, obat-obatan dan kosmetik, pesawat terbang, kereta api, tekstil, agro-industri, mainan anak, kelapa sawit, konstruksi, dan lainnya.

Peserta forum tidak hanya berasal dari Senegal, tetapi juga wakil-wakil kamar dagang dan industri (Kadin) dari negara-negara sekitar, yaitu Pantai Gading, Mali, Gambia, Cabo Verde dan Sierra Leone.

Forum bisnis di Dakar, Senegal itu merupakan bagian dari rangkaian "Africa Tour" kedua yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Nigeria dan dilanjutkan oleh Wamenlu RI A.M. Fachir di Senegal. "Africa Tour" tersebut akan dilanjutkan oleh pemerintah RI dengan kunjungan ke Kenya dan Ethiopia.

   Antara  

PTDI Masih Tunggu Investor

✈ Bikin Pesawat N245 http://www.ainonline.com/sites/default/files/styles/ain30_fullwidth_large_2x/public/uploads/2016/11/atp_n245_pic.jpg?itok=sURMtQN1&timestamp=1478705948✈ N245  [David Donald]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) masih menunggu dana segar untuk memulai pembuatan pesawat N245. Pesawat N245 masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tahun ini.

Pesawat N245 yang merupakan pengembangan dari CN235 yang pernah dibuat oleh PTDI dengan perkiraan biaya sekitar US$ 200 juta.

"Belum ada (komitmen pendanaan). Masih belum ada (investor) sampai saat ini," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Arie menambahkan, pengembangan N245 dibutuhkan payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres). Sehingga ada jaminan kepada investor akan keberlangsungan proyek ini.

"Sepertinya demikian (masih menunggu payung hukum)," ujar Arie.

Pasalnya jika sudah dikategorikan sebagai PSN, PTDI tidak semata-mata menunggu pendanaan dari pemerintah. Melainkan mencari alternatif pendanaan dari investor.

"Karena walaupun sudah dikategorikan PSN, namun pendanaannya kan harus mencari sendiri bukan diberikan pemerintah," tutur Arie.

 Belum Ada Pendanaan 

Pengembangan pesawat N245 sampai saat ini belum dilakukan karena masalah pendanaan. PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) masih menunggu dana segar dari investor untuk memulai pengembangan pesawat yang masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan dengan belum adanya komitmen pendanaan, maka penerbangan perdana N245 diperkirakan mundur dari rencana di 2020.

"Tentu nya akan bergeser (dari 2020) sesuai ketersedian dana," ujar Arie kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Untuk menarik minat investor asing menanamkan modalnya untuk mengembangkan pesawat N245, Arie menambahkan, pihaknya masih menunggu payung hukum dari pemerintah berupa Peraturan Presiden (Perpres).

Selain itu, komitmen pendanaan dari pemerintah juga diperlukan untuk memacu investasi dari swasta. Sehingga investor yakin menanamkan uangnya untuk mengembangkan N245.

"Harus ada komitmen finansial pemerintah dalam mendanainya sebagian kemudian pihak swasta atau asing baru akan tertarik melakukan investasi," tutur Arie (ang/ang)

  detik  

Senin, 05 Juni 2017

Upaya Penjualan Pesawat PT DI

Kunker Wamenlu ke Senegal dan Kenya https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiV_8MDuGuQNnkh4HZtBE5tKdJHpEZGilXKQKFunN2jtMJdy9q38olNtkhsksklEdimQe502tRxHLMfZfjCQYkl9Yn61WoyqUQB9sqMX91ViECG30JG4m0RdDL_s78MndBzfRw-K9SBhU/s1600/PTDI-CN235-Patmar.jpgPesawat CN 235 PT DI

Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir melakukan kunjungan kerja ke Senegal dan Kenya pada 7-10 Juni 2017 untuk memperkuat hubungan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Afrika.

Wamenlu RI akan berkunjung ke Senegal dan Kenya pada 7-10 Juni. Ini untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam meningkatkan hubungan dan kerja sama kita dengan negara-negara Afrika,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, Jumat.

Menurut Arrmanatha, Pemerintah Indonesia ingin memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika karena Afrika mempunyai potensi besar dan merupakan pasar non-tradisional yang penting untuk Indonesia.

Direktur Kawasan Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak menyampaikan bahwa Wamenlu Fachir dalam kunjungan kerjanya ke Senegal dan Kenya akan berfokus melakukan diplomasi ekonomi.

Dalam kunjungan ini, kami juga akan mendorong kerja sama, salah satunya upaya untuk menjual produk-produk PT Dirgantara Indonesia,” ujar dia.

Daniel mengatakan bahwa Senegal dan Kenya merupakan negara mitra penting bagi Indonesia di kawasan Afrika barat.

Salah satu agenda penting yang juga selalu didorong adalah Indonesia-Africa Forum. Forum ini akan diupayakan dilaksanakan di Indonesia untuk mendorong kerja sama ekonomi konkret antara Indonesia dengan negara-negara Afrika,” ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa salah satu prioritas diplomasi ekonomi Indonesia pada 2017 adalah untuk meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara Afrika.

Afrika merupakan kawasan yang memiliki potensi besar sehingga penting bagi Indonesia untuk terus meningkatkan dan memperluas kerja sama ekonomi di kawasan ini,” ucap Menlu Retno.

Diplomasi ekonomi pemerintah Indonesia untuk masuk dan mengembangkan kerja sama ekonomi ke wilayah Afrika pun dilakukan melalui berbagai pintu, termasuk melalui forum dan organisasi regional.

   Antara  

Selasa, 23 Mei 2017

TNI AU Komitmen Kembangkan Industri Pertahanan

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merupakan salah satu industri pertahanan strategis dan salah satu BUMN yang bergerak dibidang industri pertahanan kedirgantaraan dan memiliki kemampuan dalam bidang rancang bangun, pengujian, produksi, perawatan, perbaikan dan modifikasi pesawat terbang, untuk itu TNI AU berkomitmen membantu pengembangan dan memanjukan industri pertahanan Indonesia.
Demikian dikatakan Asops Kasau Marsda TNI Barhim dalam sambutannya pada penandatanganan kerjasama (MoU) antara TNI AU dengan PT DI tentang penggunaan awak pesawat TNI AU untuk mendukung kegiatan PT DI, di Mabesau Cilangkap, Senin (22/5).

MoU TNI AU dan PT DI ditandandatangani oleh Asops Kasau Marsda TNI Barhim dengan Direktur Umum dan SDM PT DI Sukamto MBA, disaksikan para pejabat TNI AU dan Pejabat PT DI. Dikatakan, sesuai disposisi Kasau nomor H-421 tanggal 3 April 2017, pada prinsipnya setuju penggunaan tenaga penerbang TNI Angkatan Udara yang dituangkan dalam suatu piagam kerja sama. Penggunaan awak pesawat TNI Angkatan Udara pada dasarnya adalah untuk membantu kegiatan PT DI dalam mendukung tugas dan fungsi TNI Angkatan Udara.

Kerja sama ini meliputi penggunaan awak pesawat TNI Angkatan Udara untuk mendukung kegiatan PT DI dalam rangka perbaikan, perawatan, uji terbang pesawat TNI AU dan dalam rangka proses produksi, perbaikan, perawatan, uji terbang pesawat TNI Angkatan Udara, sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan.

Penyiapan awak pesawat untuk kegiatan dimaksud akan diatur agar tidak mengganggu kegiatan operasional TNI Angkatan Udara. Dalam hal ini pihak PT DI untuk dapat berkoordinasi lebih awal agar personel dapat disiapkan seoptimal mungkin”, jelas Asops Kasau.*Red

  Peloporwiratama  

Jumat, 12 Mei 2017

PT DI Kerjasama Dengan TAI

Pengembangan Pesawat dan Drone Pada perhelatan International Defence Industry Fair (IDEF) 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 9-12 Mei 2017 di Istanbul, Turkey, Direktur Utama PTDI, Budi Santoso menandatangani MoU dengan CEO Turkish Aerospace Industries, Inc (TAI), PhD. Temel KOTÌL.

MoU antara TAI dengan PTDI diantaranya :

★ Peningkatan avionik dan sayap untuk pesawat-pesawat CN235.
★ Pengembangan, sertifikasi dan produksi bersama pesawat N245.
★ Global supply chain untuk komponen CN235
★ Pengembangan bersama untuk pesawat tanpa awak kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnVZjTvFqT0rsa14bHQ4vKczNNmtEM3ZXuiVGBGcYbtfqY8JdV6WkvMus6WLODtupLSsL-huWvz4t-fKHzPO5DoxOGcpXxbRylctTTy3hGXUayi4yrSp0QwVZMvauWMKhR0Dtr1P7gG5Q/s1600/armed-turkish-anka.jpg

Drone serang ANKA TAI [Aviation Analysis Wing]
  BUMN  

Selasa, 09 Mei 2017

N219 Terbang Bulan Ini

Buatan Bandung https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7zJKnzUywujXKfvPiCUOExeIrexg29Izr0fSrwvB8U6M50CBW-lANEUF9bjDQ5GxsYDPis-7NiavTyCJrqqXKqAov1tFp5_SdD86MqyIcgN9C5T11LPFSmyBgMviQov_uJfo5SUIrCCBU/s1600/n219.jpgground test N219  [def.pk/pt1v4t33r]

Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan uji terbang perdana Mei ini. Sekarang, pesawat buatan Bandung ini tengah memasuki tahap ground test.

Ground test yang dilakukan meliputi tes bionik, elektronik, hidrolik, hingga mesin pesawat. Ground test sangat penting dilakukan untuk memastikan pesawat N219 benar-benar siap untuk diterbangkan perdana Mei ini.

"Uji coba ground testing sudah dimulai untuk persiapan uji terbang Insya Allah bulan ini," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Mengenai lokasi uji terbang perdana pesawat N219, PTDI masih merahasiakan di mana tempat tersebut. Namun, ditargetkan pesawat N219 bisa melakukan uji terbang perdana bulan ini.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, menambahkan dilakukannya uji terbang perdana pesawat N219 tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat saat ground test.

"Uji terbang perdana bukan perayaan jadi kami tidak menentukan tanggalnya, melainkan tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat engineering dan ground test yang saat ini hampir selesai," kata Andi.

 Harus Uji Terbang 300 Jam 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgd_6QFzzGqSUUJ10gsmzwC3IOmboJgYvFyezp_iMt7UmIHvw56w9FAIeANnJyq3MYJWUJGGLOyHE0GmD9W7jRN3Nh__pe0rStG6XFjNFZz3fGA_ukjYN7SxJldfvCB6PAD7e5TyCP8zlC/s1600/n219.jpg[Dok. PTDI]

Pesawat N219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), akan diuji terbang perdana Mei ini. PTDI akan melakukan uji terbang pesawat buatan Bandung ini hingga jam terbangnya mencapai 300 jam. Uji terbang dilakukan menggunakan dua pesawat N219.

Setelah berhasil melalui uji terbang selama 300 jam, nantinya pesawat N219 bisa mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan agar bisa diproduksi massal.

"Nanti uji terbangnya harus bisa menempuh sampai sekitar total akumulasi 300 jam, supaya bisa meyakinkan pihak otoritas Kementerian Perhubungan pesawat bisa terbang," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Sedikitnya ada dua prototipe pesawat N219 yang disiapkan PTDI untuk melakukan uji terbang. Pesawat pertama memasuki tahap ground test, sedangkan lainnya sedang tahap konstruksi.

Setelah selesai melewati ground test, prototipe pertama N219 dilakukan uji terbang perdana Mei ini, sedangkan prototipe N219 kedua ditargetkan uji terbang perdana tahun ini.

"Kedua mudah-mudahan tahun ini juga bisa kita terbangkan," ujar Arie.

Arie menambahkan, seluruh pengujian pesawat N219 bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Sehingga PTDI mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan untuk memproduksi pesawat N219 secara massal.

"Kita target akhir tahun ini, tapi belum tahu bisa tercapai atau tidak. Mungkin di awal 2018, belum tahu, kami ingin step by step dulu," tutur Arie. (hns/wdl)

 Diproduksi Massal Tahun Depan 
Pesawat N219 Buatan RI Terbang Perdana Bulan IniPesawat N219 besutan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan diproduksi massal di 2018 mendatang. Pesawat buatan Bandung ini tengah melakukan ground test dan ditargetkan dilakukan uji terbang Mei ini.

Produksi massal pesawat N219 bisa dilakukan setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan sertifikat melalui berbagai pengujian yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun ini.

"Harapan kita 2018 bisa mulai produksi massal," kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Jumlah pesawat N219 yang akan diproduksi, lanjut Arie, tergantung dari pesanan dari maskapai.

"Tentunya diharmonisasi dengan kebutuhan pasar dan kemampuan kita produksi," tambah Arie.

Meskipun masih perlu melewati serangkaian pengujian, pesawat N219 sudah dipesan, salah satunya oleh Trigana Air.

Namun, para maskapai harus bersabar hingga pesawat N219 mendapatkan sertifikat agar bisa diproduksi massal.

"Sudah ada beberapa MoU tertarik, khususnya dalam negeri. Sudah ada satu dari negara tetangga untuk pesawat ini, tapi harus tunggu sampai dapat sertifikasi," tutur Arie.

 Dirancang Terbangi Daerah-daerah Terpencil 
Pesawat N219 Buatan RI Terbang Perdana Bulan IniPesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah melakukan rangkaian uji sebelum terbang perdana Mei ini.

Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan, pesawat N219 nantinya menjadi angkutan udara ke daerah yang sulit dijangkau pesawat berbadan besar. Sehingga konektivitas antar daerah bisa semakin mudah.

"Kalau di daerah kan infrastrukturnya terbatas. Jadi kita bikin pesawat tidak butuh banyak ground suppport atau equipment khusus," ujar Arie saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

"Basic N219 pesawat perintis terjangkau untuk pengadaannya, terjangkau operasional cost-nya di daerah-daerah," tambah Arie.

Keunggulan utama yang diberikan pesawat N219, lanjut Arie, memiliki keunggulan bisa lepas landas dalam lintasan pendek. Sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia.

"Fitur utama yang kita mau jual pesawat yang gampang digunakan dan gampang dirawat," ujar Arie.(hns/ang)

 Direncanakan Bisa Mendarat di Air 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUz7oU-Ynv2CV5J1Y7dCTbbqVKGjdOfDx9Xtm19dRAV5Ab5cal2WZ21OAJ97lCxLUm6xBXbsix4xy75GGEvVw3vtpY-DJpZpGUa5qHFJbDBZq5ovWBXtMI6HuxvHlv0uo3vR0dKgW2omg/s1600/642fa67d-ff8e-4a51-9d7c-fc84f2af2cda_169.jpgPT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) berencana membuat pesawat N219 Amphibious Version. Pesawat ini merupakan pengembangan dari N219 yang nantinya bisa mendarat di air dan di darat.

Pesawat ini rencananya akan dimulai desainnya pada akhir tahun 2018 mendatang. Produksi pesawat N219 amfibi ini akan dimulai setelah pesawat N219 mendapatkan sertifikasi.

"Kalau ada kebutuhan itu akan kita desain setelah selesai sertifikat di N219. Kita dapatkan sertifikasi dulu, kalau sudah selesai baru amfibi. Harapan kita 2018 akhir kita mulai desain," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).

Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.

Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.

Agar bisa mendarat di air, bagian bawah pesawat dilengkapi dengan tambahan yang mirip seperti perahu nelayan. Jika ingin melakukan pendaratan di darat, roda pesawat akan keluar dari dari landing gear.

"Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat," kata Arie. (dna/dna)

  detik