Tampilkan postingan dengan label PAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juli 2017

Senegal Siap Order Kapal Perang PT PAL

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhl4tEdNoE6RFhSm4yaEFvqye93Z23VzxycaRgsffWGVnRuCe5AZrp_71K-X6Ot9eK5ej2V8zJUa42q4SR8IjpBZsgfORT3FLZ4eusl22YEInPqzAwmwJBsxdHdmWYddYNyo22DjZXEI59Y/s1600/1028+SSV+14022+GM+01.pngIlustrasi

Produk industri pertahanan Indonesia melalui beberapa badan usaha milik negara (BUMN) mulai diminati beberapa negara di Benua Afrika. Salah satunya Senegal.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menjelaskan, Senegal siap membeli produk kapal perang buatan PT PAL (Persero).

Senegal sudah membicarakan mengenai pembelian kapal perang dengan PAL, kita tunggu saja,” kata Harry, Jakarta, Senin (10/7/2017).

Seperti diketahui, kapal perang jenis PKR atau kepanjangan dari Perusak Kawal Rudal ini merupakan kapal perang yang difungsikan untuk menyerang antar prukaan. Kapal ini juga dilengkapi dengan torpedo dan rudal yang mampu menenggelamkan kapal lawan.

Sementara jenis LPD atau Landing Platform Dock adalah kapal angkut personil yang cenderung memiliki ukuran yang lebih besar dari PKR. Kapal ini mampu mengangkut ribuan personel, 22 kendaraan lapis baja, dan sejumlah helikopter.

Jika ini nanti dikirim, maka akan menjadi kapal PAL pertama yang dimiliki oleh negara di Afrika,” ucap Harry.

Selama ini produk industri pertahanan RI yang sudah merajalela di daratan Afrika adalah produk senjata dan kendaraan tempur dari PT Pindad (Persero) dan pesawat dari PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Untuk Senegal, bahkan beberapa waktu lalu telah menerima produk CN235 buatan PT DI. Saat ini Senegal tengah menambah satu lagi pemesanan pesawat jenis yang sama ke PT DI.

Pesawat kedua yang akan difungsikan untuk patroli udara ini akan dikirimkan PT DI pada 2018.

 ♖ Liputan 6  

Indonesia Selects DSME for Submarine Overhaul Contract

DSME has been selected to partner PT PAL for repair and overhaul work on Indonesia's lead Cakra-class boat. Project will extend operational life of the diesel-electric submarine to 2024 http://www.janes.com/images/assets/182/72182/p1347542.jpgThe TNI-AL's lead 209/1300 Cakra-class submarine, KRI Cakra. (DSME)

Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) has been selected to carry out maintenance, repair, and overhaul (MRO) work on the Indonesian Navy's (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut, or TNI-AL's) lead Cakra (Type 209/1300)-class diesel-electric submarine, industry sources confirmed with Jane's on 11 July.

The South Korean company will partner with Indonesian state-owned shipbuilder PT PAL as joint lead contractors in the project, which seeks to overhaul KRI Cakra 's machinery, and see the installation of new electro-optical and GPS components on the boat's periscope mast.

The contract also includes general hull rehabilitation works, and a replacement of the submarine's combat management system (CMS). These works are expected to involve a number of other sub-contractors, but the names are not immediately available.

Jane's first reported in November 2015 that the Indonesian government has received proposals from DSME and DCNS for the USD 40 million project, which seeks to extend the service life of Cakra till at least 2024. Jane 's understands that DSME was selected due its technology transfer proposals, which were deemed to be more beneficial for the local shipbuilding industry.

Cakra is one of two Type 209/1300 submarines currently operated by the TNI-AL. The boats were built by German shipbuilder Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW), and have been in service since 1981. According to Jane's Fighting Ships, the platform features an overall length of 59.5 m, an overall beam of 6.2 m, and a hull draught of 5.4 m, and is armed with eight 533 mm torpedo tubes.

 ♖ IHS Jane's  

Minggu, 09 Juli 2017

Kerjasama Industri Strategis Bersama Turki

Senilai US $ 520 millionKunjungan resmi Presiden RI, Jokowi selama dua hari di Ankara, Turki, menghasilkan kerjasama industri strategis mencapai US $ 520 million. Kerjasama dalam membangun dan produksi ini melibatkan BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis). Berikut sekilas rangkuman dari berbagai media.

https://i.ytimg.com/vi/_NJWpzP-WHA/maxresdefault.jpg

Bersama PT PAL Indonesia, perusahaan energi Turki, Karadeniz akan membangun 4 unit kapal pembangkit listrik untuk Indonesia. Kesepakatan ini dicatat senilai US $ 320 million. [wikimedia]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcZ-JZl3ABQiQfTwnTCcWh4yoRT8CRh_CFdtxdWwt6gpPi371jkPg6ovnXCebrznN2EivvWTH0oGNGWqFG0MZGdyx3IX9XZPBiilpVYbgd9cd7qn8zodWsk9NYEzcMck__Em2tGaItBwU/s1600/type212_9.jpg

Juga dalam MoU yang disepakati bersama, Indonesia melalui BUMNIS, PT PAL akan kerjasama dengan galangan kapal Turki membangun kapal selam dari desain yang pernah ditawarkan sebelumnya tipe U214. [google]
https://keliping.files.wordpress.com/2017/02/n245-dua.jpg

Dengan PT Dirgantara Indonesia juga disepakati kerjasama membangun pesawat CN 245 kedepan. Selain itu juga PT DI menawarkan pesawat barunya, N219. [PT DI]
http://dirilispostasi.com/images/uploads/iha_(3).jpg

Kesepakatan bersama PT DI ini juga membolehkan BUMNIS membangun secara lisensi dan memasarkan pesawat tanpa awak UAV TAI Anka di wilayah Asean. Indonesia sendiri membutuhkan UAV MALE (Medium Altitude Long Endurance) ini untuk patroli di wilayah perbatasan. Kesepakatan ini diyakini senilai US $ 200 million. [dirilispostasi]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnqtJO5HgP_vuxNX1j2QG_7vuvnLR81cn6_KSQ_fxTDebUe2S611AyhAvu7f_JYCh8nCoiOKaSq02OOiQl5pmVTs7hovgFvO_5Cexe_i5jvNVRjxshd8_r2R3a9JLhLDwC5NA2pcaya7we/s1600/361786.jpg

Untuk kebutuhan darat, PT Pindad telah memulai kerjasama dengan FNSS Turki, membangun ranpur medium tank Kaplan dan akan dipamerkan kepada umum pada HUT TNI bulan Oktober tahun ini. [FNSS]

Proyek kedepan PT Pindad juga akan membangun dan memproduksi truk bersama Turki. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kesepakatan ini di harapkan dapat diproduksi secepatnya, bukan hanya kesepakatan dalam MoU saja. [Ilustrasi/youtube]
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYIzEzZmEmLq_2OIBXl8V0z740Oa6jPK0AqzXKt_QaGWnXbO7IBEDDM874aDaFwpPsp5KYwmiJTUsAko7Glwp3DgQIp8M0BXQ_Q4T8npc-Dcko-enVhUk-Ms4c-F6-OdNmBnrFPnydkEk/s1600/Manpack+Alkom+FISCOR-100+Alat+Komunikasi+Anti+Sadap+dan+Anti+Jamming+Buatan+PT+LEN.jpg

Sedangkan PT LEN akan berkerjasama memproduksi sistem alat komunikasi bersama Turki. [Ilustrasi/google]
   Garuda Militer  

Jumat, 07 Juli 2017

PAL Indonesia-Karpowership Bangun Kapal Pembangkit Listrik

Direktur Utama Karpowership Orhan Remzi Karadeniz (duduk kanan) bersama Direktur Utama PT PAL Budiman Saleh (duduk kiri) menandatangani kesepakatan kerjasama strategis antara PT PAL dengan Karpowership disaksikan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (kanan), Deputi Perdana Menteri Turki Nurettin Canikli (kedua kanan) dan Menteri Ekonomi Turki Nihat Zeybekci di Ankara, Turki, Kamis (6/7/2017). (ANTARA FOTO/HO/Lukman)

PT PAL Indonesia (Persero) dan Karpoweship dari Turki sepakat membangun empat kapal pembangkit listrik berkapasitas 36 hingga 80 Mega Watt (MW) untuk pengadaan listrik di berbagai pulau di Indonesia.

"Kedua perusahaan telah menandatangani kesepakatan kerja sama strategis membangun empat kapal pembangkit listrik Indonesia pertama di galangan kapal Indonesia," demikian keterangan Direktur Utama PT PAL Indonesia, Budiman Saleh, dalam siaran pers yang diterima ANTARA News di Jakarta, Jumat.

Penandatangan kerja sama dilakukan antara Budiman Saleh dan Direktur Utama Karpowership Orhan Remzi Karadeniz yang disaksikan Menteri Luar Negeri Turki Nihat Zeybekci dan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita, dalam rangkaian kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Turki, Kamis (6/7).

Menurut Budi, Kapowership merupakan pemilik tunggal dan juga operator dari kapal pembangkit listrik terbesar di dunia, dan PT PAL sebagai perusahaan negara terkemuka di bidang perkapalan di Indonesia.

Dijelaskannya, pada Oktober 2016 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) telah ditandatangani PT PAL sebagai bentuk kerjasama awal dalam mengidentifikasi dan memonitor peluang peluang terkait akan kebutuhan listrik di Indonesia dan wilayah sekitarnya.

MoU itu menjadi pembuka jalan untuk kedua pihak dalam bersama membangun dan berkolaborasi dalam transfer teknologi sambil turut serta menambahkan nilai lokal Indonesia dalam pembangunan armadanya.

"Kerja sama strategis ini bagian dari rencana armada tambahan hingga sebesar 5.000 MW," catatnya.

http://cdn2.tstatic.net/medan/foto/bank/images/kapal-pembangkit-listrik_20170521_200804.jpgKapal Pembangkit Listrik Karpowership [Tribunnews]

PT PAL akan membangun empat kapal pembangkit listrik Indonesia kelas Mermaid berkapasitas antara 36 sampai 80 MW untuk pengadaan listrik di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.

Dengan kerjasama strategis itu, Karpowership dapat memperluas operasinya di Indonesia, yang sampai hari ini berhasil menginstal listrik berkapasitas 845 MW di sejumlah wilayah kepulauan Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Karpowership merupakan satu-satunya pemilik, operator dan pembangun kapal pembangkit listrik Powership di dunia yang berperan aktif dalam investasi jangka menengah sampai panjang dengan jumlah karyawan sebanyak 2.200 orang.

Selain itu, Karpowership memiliki dan mengoperasikan 13 Powerships dengan total kapasitas 2.700 MW dan tambahan 4.500 MW yang sedang dalam proses pembangunan. Karpoweship kini beroperasi di Ghana, Indonesia, Lebanon dan Zambia melalui Mozambik.

Karpowership sudah beroperasi di Indonesia sejak 2015 dengan empat Powerships dan total kapasitas 845 MW.

   Antara  

Selasa, 04 Juli 2017

Nigeria Bahas Pengadaan Kapal Perang Buatan PAL Indonesia

SSV PAL Indonesia [PAL]

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan Nigeria sedang menjajaki pengadaan kapal perang buatan PT PAL Indonesia (Persero).

"Nigeria tertarik mendatangkan kapal perang buatan Pal Indonesia. Kedua pihak sudah melakukan pembicaraan untuk pengadaannya," kata Harry di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Menurut Harry, jenis kapal perang yang akan dibangun PAL masih belum ditentukan apakah Perusak Kapal Rudal (PKR) atau Strategic Sealift Vessel (SSV).

"Realisasi pengadaan kapal perang ini akan disesuaikan dengan kebutuhan serta anggaran dari negara tersebut. Jika tahun ini (2017) terjadi kesepakatan maka kemungkinan kapal pesanan Nigeria diperkirakan bisa diselesaikan dan diserahkan pada tahun 2019," kata Harry.

Ia menjelaskan sejumlah negara di Afrika juga tertarik mendatangkan kapal perang buatan Pal Indonesia yang berlokasi di Surabaya itu.

"Meskipun di Afrika Selatan ada perusahaan pembuat kapal laut, namun sejumlah negara di kawasan itu lebih tertarik kapal perang Pal," ujarnya.

Sebelumnya, Pal Indonesia telah membuktikan kemampuannya untuk memenuh pesanan kapal perang yang merupakan buatan anak bangsa.

Pada September 2016, perusahaan mengekspor kapal perang pesanan Filipina jenis SSV.

Kapal perang dengan kecepatan maksimal 16 knot itu diberi nama Davao Del Sur.

Spesifikasi umum kapal SSV itu termasuk panjang 123,0 meter, lebar 21,8 meter, serat air 5 meter, bobot 7.200 ton, dan daya angkut 621 orang.

Dengan suksesnya ekspor kapal perang ke Filipina itu mengundang investasi berupa pesanan kapal perang serupa dari negara lainnya.

  ⚓ Antara  

Jumat, 30 Juni 2017

DCNS dan PT PAL Kerjasama Tangani Proyek Angkatan Laut Indonesia

http://www.naval-technology.com/projects/scorpene/images/scorpene1.jpgIlustrasi kapal selam SSK Scorpene [naval technology]

Setelah kunjungan Presiden Perancis, François Hollande, ke Indonesia, DCNS dan PT PAL menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk memperkuat kerja sama mereka di bidang kapal selam dan kapal permukaan, sesuai dengan hasil Dialog Pertahanan Prancis Indonesia (IFDD).

Dilansir dari laman DCNS (30/06), melalui kerjasama jangka panjang Indonesia-Prancis, Indonesia ingin memperkuat kapasitas angkatan lautnya dan sedang mendiskusikan dengan Prancis untuk mengeksplorasi proyek kapal selam dan kapal permukaan yang akan dibangun di Indonesia dengan tingkat kandungan industri lokal yang tinggi.

DCNS dan PT PAL telah bekerja sama selama beberapa tahun terakhir untuk mengidentifikasi solusi industri terbaik dan memungkinkan untuk menawarkan kapal selam serbaguna dari generasi terbaru keluarga Scorpene Class, yang mampu melakukan misi perairan dangkal dan dalam. Kesempatan lainnya adalah korvet dan frigat yang akan dibahas dalam waktu dekat.

Setelah menandatangani Nota Kesepahaman ini, CEO DCNS Hervé Guillou menyatakan: “Sebagai pemimpin Eropa dalam sistem tempur angkatan laut, perancang kapal perang dan pembangun kapal perang, DCNS berkomitmen untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan industri Indonesia untuk meningkatkan konten industri berteknologi tinggi lokal di Indonesia. Kerja sama kami dengan galangan kapal terbesar di Indonesia, PT PAL, adalah ilustrasi sempurna dari ambisi ini dan kami berharap dapat memberikan keahlian kuat kami melalui transfer teknologi untuk program angkatan laut yang kompleks, untuk menyediakan proyek industri dan mengembangkan kemampuan operasional Angkatan Laut Indonesia“.

  Indonesia Teknologi  

Senin, 12 Juni 2017

5 BUMN Ikuti Pameran Mast Asia 2017

✈ Di Tokyo PT Pindad (Persero) yang tergabung dalam klaster National Defence and High-Tech Industry (NDHI) Kementerian BUMN dalam paviliun Indonesia mengikuti pameran Maritime/Air Systems & Technologies for Defence, Security and Safety (MAST Asia) yang diselenggarakan pada 12-14 Juni 2017 di Tokyo, Jepang.

Kementerian BUMN hadir di MAST Asia diwakili oleh klaster NDHI & NSHI yang menampilkan berbagai mock up beserta poster produk. 5 BUMN yang hadir langsung yaitu PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Pal Indonesia, PT Len Industri dan PT Dahana. Adapun BUMN yang tidak hadir langsung diwakili oleh poster produk.

Partisipasi Indonesia dalam pameran teknologi sistem maritim dan udara ini untuk menunjukkan berbagai kemajuan teknologi, khususnya di bidang industri pertahanan yang tidak kalah dengan negara lain. Indonesia Bersama Jepang dan India merupakan wakil dari Asia yang mengikuti event ini.

Pindad menampilkan mock up dan poster produk maritim serta produk unggulannya seperti Anoa Amphibious yang dapat beroperasi di perairan dan darat, Anoa yang turut beroperasi dalam misi perdamaian internasional serta tank boat Antasena yang dilengkapi canon 105 mm dan memiliki daya hancur besar.

Produk lainnya yang ditampilkan antara lain, kendaraan lapis baja Badak yang dilengkapi canon 90 mm, prototype medium tank pengembangan Bersama dengan FNSS, senjata dan munisi yang telah memenangkan berbagai lomba tembak internasional, serta produk industrial seperti peralatan kapal laut, ekskavator, komponen transportasi dan alat mesin pertanian.

MAST Asia adalah event trade-show, konferensi pertahanan dan community enabler internasional terbesar di Jepang yang diikuti oleh industri pertahanan dari berbagai negara di dunia. Tahun depan akan diselenggarakan MAST Indo-Asia di India.

  Pindad  

Kamis, 08 Juni 2017

Senegal Berminat Beli Pesawat, Kapal dan Kereta Indonesia

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/pesawat-terbang-cn235-220m-multi-purpose-melakukan-ferry-flight-di-_161227175018-166.jpgIlustrasi - Pesawat CN235-220M pesanan Senegal [republika]

Pemerintah Senegal dalam Forum Bisnis Indonesia-Senegal pertama di Dakar pada Rabu (7/6) menyampaikan minat untuk membeli pesawat CN-235, kapal feri dan kapal tanker, serta kereta api buatan Indonesia.

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dalam pertemuan bisnis tersebut, pihak Senegal menunjukkan minat yang besar terhadap pembelian pesawat CN-235 yang ke-3 dan ke-4, serta penjajakan pemesanan kapal feri penumpang 500 kursi dan kapal tanker, kata Duta Besar RI untuk Senegal Mansyur Pangeran.

Selain itu, lanjut Dubes Mansyur, Senegal juga berminat untuk membeli kereta api buatan PT. INKA untuk proyek pembangunan prioritas "Plan Senegal Emergent" (PSE) di sektor perkeretaapian yang menghubungkan Dakar-Tambacounda dan Dakar-St. Louis.

Dia menambahkan, dalam pertemuan antarpelaku bisnis di Forum Bisnis Indonesia-Senegal itu Presiden Dewan Perkapalan Senegal juga menyampaikan keinginan untuk membeli tiga kapal buatan PT. PAL, yaitu satu kapal tanker ukuran 10 ribu ton dan dua kapal kargo ukuran 20 ribu ton.

Dubes Mansyur menyampaikan bahwa forum bisnis itu bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia-Senegal, khususnya di bidang perdagangan dan bisnis.

"Peristiwa ini menjadi catatan sejarah tersendiri, karena selama lebih dari sepuluh tahun menjalin hubungan bilateral, forum sejenis baru pertama kali diadakan," ujar dia.

Forum bisnis itu diharapkan dapat meningkatkan interaksi dan kegiatan saling kunjung antarpelaku bisnis untuk mencari peluang yang sangat terbuka antara kedua negara.

Forum bisnis tersebut dihadiri oleh sekitar 100 pelaku usaha yang bergerak di sektor pertanian, obat-obatan dan kosmetik, pesawat terbang, kereta api, tekstil, agro-industri, mainan anak, kelapa sawit, konstruksi, dan lainnya.

Peserta forum tidak hanya berasal dari Senegal, tetapi juga wakil-wakil kamar dagang dan industri (Kadin) dari negara-negara sekitar, yaitu Pantai Gading, Mali, Gambia, Cabo Verde dan Sierra Leone.

Forum bisnis di Dakar, Senegal itu merupakan bagian dari rangkaian "Africa Tour" kedua yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di Nigeria dan dilanjutkan oleh Wamenlu RI A.M. Fachir di Senegal. "Africa Tour" tersebut akan dilanjutkan oleh pemerintah RI dengan kunjungan ke Kenya dan Ethiopia.

   Antara  

Minggu, 14 Mei 2017

Kisah Mengemudi Kapal SSV Kedua Filipina

✬ Demi NKRIMuhammad Munip, Nahkoda Kapal Perang Ekspor Kedua Filipina (Antara Jatim)Muhammad Munip, Nahkoda Kapal Perang Ekspor Kedua Filipina. [Antara Jatim]

Tak melihat nilai nominal materi yang ditawarkan kepada dirinya, dan hanya ingin memiliki rasa kebanggaan terhadap karya anak bangsa, Kapten Munip menerima tawaran menjadi nakhoda ekspor kedua kapal perang ke Manila, Filipina, buatan PT PAL Indonesia.

Keinginan pria kelahiran Bangkalan, Madura, 13 Juli 1978, menjadi nakhoda kapal perang ekspor kedua itu hanya satu, ingin menunjukkan baktinya sebagai anak bangsa dengan turut berpartisipasi memegang kendali kapal perang saat dikirim ke negeri seberang.

Tentunya keinginan itu membawa risiko bagi suami Umi Nuraini ini, dia harus menolak beberapa kontrak dan tawaran menakhodai kapal niaga yang memiliki nilai tawaran materi yang lebih tinggi dari pihak swasta.

Namun demikian, itu sudah menjadi keputusan dan tekad bapak tiga anak ini untuk turut mengantarkan kapal perang eskpor kedua dengan menjadi kapten kapal.

Pria dengan catatan berlayar puluhan kali ke beberapa negara tersebut mengaku, selain memiliki rasa bangga, pemilik nama lengkap Muhammad Munip ini juga ingin mempunyai pengalaman dalam memegang kendali kapal perang.

Ini adalah pengalaman pertama saya menakhodai kapal perang, selain bangga dengan produk dalam negeri, saya juga mendapatkan ilmu dan teman-teman baru di anjungan kapal,” kata ayah dari Ayyesa Abiyu Munif ini.

Munip mengatakan, secara umum memegang kendali kapal perang dan kapal niaga tidak beda jauh dengan kapal-kapal lainnya, namun ada nilai tambah yang memotivasi dirinya ingin menjadi nakhoda kapal perang pada ekspor kedua kali ini.

Apalagi, kata dia, kapal perang yang dinakhodainya kali ini adalah hasil buatan anak negeri dan merupakan pelayaran bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Hal itulah yang membuat saya mau mengambil tawaran dari PT PAL Indonesia untuk menakhodai pengiriman atau ekspor kapal perang kedua ke Filipina,” kata Munip yang mempunyai sertifikat pelayaran golongan tinggi ANT I atau kelas 1.

Tawaran itu, kata dia mulai diterima saat kapal perang jenis “Strategic Sealift Vessel” (SSV) melakukan uji coba hingga selesai pengiriman atau ekspor ke Filipina.

Dalam prosesnya, Munip mengaku kagum dengan produk PT PAL Indonesia, karena selama memegang kendali kapal yang telah diberinama negara pemesan Davao Del Sur itu teknologinya sangat tinggi di kelasnya, dengan stabilitas kapal yang teruji, meski menghadapi ombak mencapai 2 meter hingga 3 meter.

Selama menakhodai, mulai dari “frist sea trial” pada Februari, Maret dan April 2017, kapal ini adalah “hitech vessel” dan saya kagum karena buatan dalam negeri,” katanya.

Kebanggaan bercampur kekaguman itulah, kata Munip, yang tidak bisa ditukar dengan tawaran materi tinggi saat memegang kendali kapal perang ekspor kedua PT PAL Indonesia.

 Produk Dalam Negeri 
https://assets.rappler.com/A21433DA47E04F44B612F217C593747E/img/9A54EAF7E6E547D9BD5E627AD99E5D9E/ARRIVAL_CEREMONY_OF_LD_DAVAO_DEL_SUR_602.jpgSSV BRP Davao del Sur LD 602 [rappler]

Munip mengaku, produk dalam negeri khusus kapal sudah sangat layak disandingkan dengan beberapa produk sejenis buatan negara unggulan, seperti Korea Selatan, Belanda dan Jerman.

Dari catatannya selama memegang 21 kapal berteknologi tinggi buatan beberapa negara, Munip mengapresiasi produk buatan PT PAL Indonesia, karena secara sistem dan teknologi sudah sangat layak.

Sehingga, pria dengan catatan 20 lebih sertifikat pelayaran ini mengaku tidak salah apabila Filipina mengakui produk PT PAL Indonesia bagus dan memiliki keandalan dalam bidang teknologi perkapalan.

Kapal SSV-2 pernah dihajar ombak sampai oleng, dan airnya hingga sampai ke anjungan saat percobaan keandalan di Perairan Bawean, namun bisa kembali ke posisi semula dengan kestabilan cukup bagus,” katanya.

Selain itu, saat melakukan manuver dengan segala kondisi, kapal yang memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter itu juga mampu kembali stabil seperti semula.

Sebelumnya, Pejabat Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) Filipina Bonifacio Manzano juga mengaku secara umum operasional mesin kapal sangat bagus dan layak, sehingga tidak mengalami kendala berarti selama perjalanan kapal dari Surabaya ke Manila.

Secara umum tidak ada masalah untuk mesin kapal selama perjalanan, dan saya rasa sangat bagus mesin dan perjalanan ini,” kata Manzano yang juga Palaksa Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.

Spesifikasi dua kapal perang SSV buatan PT PAL Indonesia yang dikirim ke Filipina memiliki daya tampung 621 penumpang, serta mampu bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 Ton.

Kapal memiliki kecepatan 16 knots dengan mesin pendorong 2 X 2,920 kW, dan mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil rumah sakit, hingga kapal patroli dan transporter, dan merupakan kapal hasil inovasi dari produksi kapal alih teknologi dengan Korea Selatan.

  ⚓ antara  

STM-TKMS Offers Three Type 214 Submarines for Indonesian Navy

The first submarine would be built in Turkey and two more in Indonesia Scale model of Type 214TN on TKMS stand at IDEF 2017 [Navy Recognition]

During IDEF 2017, the international defense exhibition held in Istanbul, Turkish company STM signed a LOI (letter of intent) with German Shipbuilding group ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS).

Talking to Navy Recognition, an STM representative explained that the LOI calls for cooperation between the two companies on a potential contract to built three submarines for the Indonesia Navy (TNI AL). The first submarine would be built in Turkey and two more in Indonesia.

The design being offered is based on the future Turkish-configuration Type 214 diesel-electric submarine (SSK) currently being built by Gölcük Naval Shipyard in Kocaeli for the Turkish Navy (six Type 214TN submarines have been ordered).

As part of the agreement, STM would act as prime contractor if Indonesia was to select the Type 214 design. Other companies such as DSME from South Korea and DCNS from France are also proposing their design to Indonesia.

The Type 214 SSK is developed by Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW). It features diesel propulsion with an air-independent propulsion (AIP) system using Siemens polymer electrolyte membrane (PEM) hydrogen fuel cells. The Type 214 submarine is derived from the Type 212.

Type 214 submarines have a length of 65 m., a beam of 6.3 m, a draught of 6 m. and are capable of diving to a depth of 400 m. Their crew is comprised of 40 sailors. Their weapons include mines, torpedoes and anti-ship missiles which are launched from eight 533 mm. tubes.

  Navy Recognition  

Kamis, 11 Mei 2017

Filipina Berminat Pesan SSV

Salah Satunya Kapal Rumah Sakit BRP Davao del Sur LD602 Tiba di Filipina [stripes]

Kementerian Pertahanan Filipina berminat memesan kembali kapal ke PT PAL Indonesia, dan rencananya adalah kapal jenis rumah sakit setelah sebelumnya membeli dua kapal "Strategic Sealift Vessel" (SSV) ke perusahaan itu.

General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro di Manila, Kamis, mengatakan saat ini pihak Filipina masih melakukan beberapa pendataan dan spesifikasi kapal yang dibutuhkan.

Diharapkan, kata Bintoro, dalam waktu dekat akan ada gambaran jelas mengenai spesifikasi kapal yang dibutuhkan, sehingga tim PT PAL Indonesia bisa segera menyesuaikan.

"Kami optimistis mereka akan memesan kembali kapal ke PT PAL Indonesia, karena mereka mengaku puas dengan dua kapal sebelumnya yang dibeli dari kami," kata Bintoro.

Bintoro mengakui, minat Filipina dan beberapa negara lainnya bisa menjadi peluang bisnis PT PAL Indonesia, dan diharapkan dengan kepuasan negara pemesan akan menambah kepercayaan bagi galangan nasional lainnya.

"Selain kapal rumah sakit, mereka mengaku juga butuh lagi tiga lagi kapal jenis SSV, karena spesifikasinya sesuai dengan wilayah Filipina," katanya.

Sebelumnya, Filipina memesan dua kapal SSV ke PT PAL Indonesia yang diberi nama BRP Tarlac dan BRP Davao Del Sur dengan nilai pemesanan keduanya mencapai sekitar Rp 1,1 triliun.

Pembelian kedua kapal SSV itu diawali setelah PT PAL Indonesia memenangi tender dan lelang internasional yang diadakan negara setempat pada tahun 2014, dengan mengalahkan delapan negara salah satunya Korea Selatan, yang dikenal sebagai salah satu negara produsen kapal hingga jet untuk perang.

Ekspor kapal perang pertama Indonesia dilepas Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 8 mei 2016, dan ekspor kedua dilepas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada 4 Mei 2017.

  ★ Antara  

Selasa, 09 Mei 2017

PAL Proses SSV Pesanan Filipina

Sebanyak 2 unit tambahanhttp://i8.photobucket.com/albums/a5/flipzi/defense/13245253_236951513335414_5011456742895856880_n_zpsypgohrjg.jpgBRP 601 Tarlac [defense arab] ★

I
ndonesia melalui BUMN, yaitu PT PAL Indonesia (Persero) telah mengirim kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) kedua ke angkatan militer Filipina. Kapal itu dinamakan BRP Davao Del Sur LD 602.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan,‎ Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, pesanan kapal dari Filipina tidak berhenti di situ. Harry mengaku Indonesia masih memproses pembuatan kapal pesanan Filipina ke 3 dan ke 4 dengan tipe yang berbeda.

Sudah ada pembicaraan dengan Filipina, rencana ada SSV 3 dan SSV 4,” tegas Harry saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Selasa (9/5/2017).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi18Lnz-FHeVtTPDWHoFFPFIjvL9ucE2TJ5eZUaSPHttb5IYNr4xLkh-BYSZ2Yob4U5kYVHVOdf2XjMYQqX83bNl756GFE7o6sTzVG86DVHus9uXnkVCClkNcDYdU4TKTe-Ejg54midn1fQ/s1600/brp-davao-del-sur+update.ph.jpgBRP 602 Davao Del Sur [update.ph]

‎Dijelaskannya, meski dua kapal yang dipesan itu memiliki tipe yang sama, namun Militer Filipina menginginkan memiliki fungsi khusus. Satu sebagai kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit, dan satu sebagai markas pasukan.

Dalam kapal rumah sakit ini, nantinya dijadikan cover kesehatan bagi para pasukannya yang tengah melakukan operasi di daerah-daerah pertempuran.‎ Di dalamnya akan ada laboratorium hingga ruang perawatan.

Sementara untuk kapal markas pasukan, nantinya akan digunakan militer Filipina dalam memberantas perompak-perompak di perairannya.

‎Nanti juga dilengkapi dengan senjata. ‎Filipina ini negara kepulauan seperti Indonesia, sehingga pemberontak-pemberontak akan dimasukkan ke kapal, sehingga tidak perlu turun ke darat. Nah SSV ini cocok,” papar Harry.

  Liputan 6  

Senin, 08 Mei 2017

Kapal Perang Ekspor "SSV-2" Tiba di Filipina

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmrQItv3vfyys-45HWuKReb9KprWbwbSTZXunnkZLLylhNWAMtARxID_aZU8laajwNo859EdwHf0jyrBNej82-pjA9P8IfGgWh5fpIZ-w16o6Z84aSiN7cBzJjqwNo-Qj_VIrqH4F-Hl5B/s1600/brp-davao-del-sur-1+update.ph.jpgSSV kedua produksi PAL Indonesia [update.ph]

Kapal perang ekspor "Strategic Sealift Vessel" (SSV) jenis "Landing Platform Dock" (LPD) buatan PT PAL Indonesia tiba di Pelabuhan Manila, atau negara pemesan Filipina pada Senin (8/5) pukul 11.00 waktu setempat.

Kapal dengan nama BRP Davao Del Sur LD 602 ini adalah pesanan yang kedua Filipina kepada PT PAL.

Kepala perjalanan eskpor kedua yang juga General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro, Senin di Manila mengaku bersyukur atas tibanya kapal ekspor kedua di Pelabuhan Manila, Filipina, dan membuktikan produk Indonesia mampu bersaing dengan galangan Internasional terkait ketepatan waktu.

"Alhamdulillah selama perjalanan tidak ada kendala berarti, dan tiba dengan selamat di Pelabuhan Manila," kata Bintoro yang ditemui di atas kapal.

Bintoro mengatakan tidak ada kendala berarti selama perjalanan, dan keberhasilan ekspor kedua ini karena adanya kerja sama semua tim PT PAL Indonesia serta krew kapal.

Sementara Pimpinan Proyek SSV-2, Adenandra mengatakan kinerja mesin dan beberapa kecanggihan kapal perang telah diuji selama perjalanan, dan berjalan baik.

"Kami selama perjalanan dari Surabaya ke Manila menggunakan kecepatan antara 14 knot hingga 15 knot, dan telah menguji beberapa teknologi, seperti balasting kapal," katanya.

Ia berharap, tidak adanya kendala mesin atau teknologi selama perjalanan bisa membuat negara pemesan, Filipina memberikan apresiasi dan kembali memesan kapal ke galangan nasional.

Sebelumnya, kapal secara seremonial dilepas pada Selasa (2/5) oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacud di Dermaga Semarang, Ujung Surabaya, dan mulai diberangkatkan atau melakukan perjalanan antarnegara pada Rabu (3/5) pukul 09.00 WIB pagi.

Kapal menempuh waktu perjalanan selama lima hari dengan melintas Laut Jawa, Selat Makasar hingga memasuki perbatasan Indonesia-Filipina atau Laut Celebes.

Kapal juga sempat berhenti untuk melakukan beberapa pengujian kecanggihan kapal, seperti keseimbangan atau balasting di dekat Pulau Karangjamuang.

Kapal yang membawa 112 krew dari PT PAL Indonesia, 22 Anak Buah Kapal (ABK), lima petugas katering dan 115 krew dari Angkatan Laut Filipina itu juga sempat melakukan beberapa manuver kecepatan, dari batas kecepatan awal 16 knots.

 Filipina puas 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBApRbUAGk14-CgnUBPgtuebQuo9CdOvhbBxAe-KYgV__4M2PhuZ6-73xBcp081CgcZdfVYsgeb_1_1c4nOhKj7QMMyy3i2a238SeVe0jABDdcH0yDlrsSc8gbWdV3HuYUG1OF-ZzT9yB_/s1600/brp-davao-del-sur+update.ph.jpgBRP 602 Davao Del Sur [update.ph]

Filipina mengaku puas pada kapal perang buatan PT PAL Indonesia yang dipesannya, setelah kapal kedua pesanan mereka "Strategic Sealift Vessel" (SSV) BRP Davao Del Sur LD 602 tiba di Pelabuhan Manila.

"Kami dari Filipina mengapresiasi dan sangat berterima kasih dengan produk PT PAL Indonesia dan selama perjalanan kondisi cuaca juga cukup bagus," kata Komandan Satuan Tugas Pengadaan Kapal SSV dari Filipina, Richard N Gonzaga, di Pelabuhan Manila, Senin.

Ia mengatakan, ekspor kedua kali ini sama seperti perjalanan pertama, yakni aman. "Kami akui ini merupakan perjalanan yang sangat bagus dari Surabaya ke Manila," kata Gonzaga yang sekaligus Komandan Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.

Pejabat Pelatihan Anak Buah Kapal (ABK) Filipina Bonifacio Manzano mengaku secara umum operasional mesin kapal sangat bagus dan layak sehingga tidak mengalami kendala berarti selama perjalanan.

"Secara umum tidak ada masalah untuk mesin kapal selama perjalanan, dan saya rasa sangat bagus mesin dan perjalanan ini," kata Manzano yang juga Palaksa Kapal BRP Davao Del Sur LD 602.

Perjalanan laut dari Surabaya ke Manila ditempuh dengan melintasi Laut Jawa dan Selat Makasar kemudian Laut Sulawesi dan Laut Cina sebelum berlabuh dan lego jangkar di Pelabuhan Manila.

Perjalanan eskpor kedua sebelumnya dilepas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada Selasa (4/5) di Dermaga Semarang, Ujung Surabaya, Jawa Timur.

Awak Angkatan Laut Filipina yang mengikuti perjalanan ini ada 115 orang, ditambah 112 awak PT PAL Indonesia, dan 22 Anak Buah Kapal (ABK), serta lima petugas katering.

BRP Davao Del Sur LD 602 adalah kapal perang pesanan kedua Filipina, sedangkan pesanan pertama diberi nama Tarlac, dan tiba di Manila pada 13 Mei 2016.

  ⚓ antara