Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juli 2017

Indonesia Selects DSME for Submarine Overhaul Contract

DSME has been selected to partner PT PAL for repair and overhaul work on Indonesia's lead Cakra-class boat. Project will extend operational life of the diesel-electric submarine to 2024 http://www.janes.com/images/assets/182/72182/p1347542.jpgThe TNI-AL's lead 209/1300 Cakra-class submarine, KRI Cakra. (DSME)

Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) has been selected to carry out maintenance, repair, and overhaul (MRO) work on the Indonesian Navy's (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut, or TNI-AL's) lead Cakra (Type 209/1300)-class diesel-electric submarine, industry sources confirmed with Jane's on 11 July.

The South Korean company will partner with Indonesian state-owned shipbuilder PT PAL as joint lead contractors in the project, which seeks to overhaul KRI Cakra 's machinery, and see the installation of new electro-optical and GPS components on the boat's periscope mast.

The contract also includes general hull rehabilitation works, and a replacement of the submarine's combat management system (CMS). These works are expected to involve a number of other sub-contractors, but the names are not immediately available.

Jane's first reported in November 2015 that the Indonesian government has received proposals from DSME and DCNS for the USD 40 million project, which seeks to extend the service life of Cakra till at least 2024. Jane 's understands that DSME was selected due its technology transfer proposals, which were deemed to be more beneficial for the local shipbuilding industry.

Cakra is one of two Type 209/1300 submarines currently operated by the TNI-AL. The boats were built by German shipbuilder Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW), and have been in service since 1981. According to Jane's Fighting Ships, the platform features an overall length of 59.5 m, an overall beam of 6.2 m, and a hull draught of 5.4 m, and is armed with eight 533 mm torpedo tubes.

 ♖ IHS Jane's  

Rabu, 21 Juni 2017

Mengapa Angkatan Laut Indonesia Perlu Kapal Selam Konvensional Jarak Jauh ?

Sejak Perang Dunia pertama, kapal selam dikenal sebagai pemburu kapal permukaan musuh yang senyap dan mematikan. Hal ini disebabkan karena kapal selam mempunyai beberapa keunggulan yang mampu memberikan efek penggentar (deterrence effect) untuk musuh-musuhnya.

Teknologi dan taktik peperangan, meliputi stealth, covert, asimetris, dan keuntungan akses di laut, sering memberikan kemenangan untuk kapal selam dalam pertempuran, memberikan efek besar kepada musuh dan membuat mereka lebih superior daripada kapal perang lainnya di mandala perang. Indonesia, sebagai salah satu negara yang mengoperasikan kapal selam dalam angkatan lautnya, juga harus memanfaatkan kelebihan yang dimiliki kapal selam.

Indonesia memiliki tugas berat dalam menentukan berapa besar kekuatan kapal selam dan bagaimana pola operasi untuk kapal selam itu sendiri. Mencermati letak geografis dan perkembangan lingkungan strategis regional, Indonesia memerlukan kapal selam konvensional yang berukuran besar agar dapat beroperasi jauh dari pangkalan.

Satuan kapal selam nantinya juga harus dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap negara Indonesia sebagai leadership role di kawasan regional dan ikut serta dalam permasalahan global. Hal ini konsisten dengan paradigma TNI AL yaitu Menjadi Angkatan Laut Berkelas Dunia (World Class Navy).

Selain itu, satuan kapal selam harus mampu menangkal potensi ancaman baik dari dalam maupun dari luar dan mampu beroperasi di seluruh perairan Indonesia yang berpotensi terjadi konflik kepentingan dan kedaulatan.

Teknologi kapal selam merupakan teknologi yang sangat sensitif dan bersifat eksklusif nasional. Sebagian besar negara produsen kapal selam tidak mau berbagi teknologi yang mereka punyai, walaupun dengan negara sahabat maupun sekutunya sekalipun. Dalam situasi ini, Indonesia mempunyai pilihan yang sulit.

Politik Luar Negeri bebas aktif dan pilihan non blok menjadi pertimbangan dalam mengembangkan kekuatan angkatan laut, khususnya kapal selam. Perusahaan galangan kapal domestik, seperti PT PAL, perlu mendapatkan bantuan dan dukungan teknologi kapal selam dari negara lain dalam mendesain, membangun, mengembangkan dan mempertahankan kemampuan kapal selam. Namun, tentunya campur tangan dan kemauan pemerintah dalam mengembangkan industri pertahanan dalam negeri sangat diharapkan, sehingga terdapat proses transfer of Technology (ToT).

 Mengapa Indonesia Harus Memilih Kapal Selam? 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2XxD4klszuNgXD4ZBdskBKLvtUj52aXsnGJxmo19gftCJPjrd5Tobol7TLI5-v2JQbXS0TmrUmyEI2bMvUKq8boJq3fFdMv6rKhAbku-VHQ6UumDfcUKXDuXl6lIdD-V9JFKCRM7a-n4v/s1600/KRI+Nagapasa+403+menjalani+sea+trial+%2528defence.pk%2529.jpgKRI Nagapasa 403 [Hiu Kencana]

Taktik paling ideal kapal selam adalah stealth atau rahasia, beroperasi secara tertutup (covert) sampai dapat mendekati musuh, kemudian mengamati, melaporkan atau melaksanakan aksi manuver sesuai misi yang diemban. Dengan posisi yang tepat dan covert, kapal selam mampu untuk menyerang musuh dengan cepat tanpa terdeteksi. Kapal selam juga mampu beroperasi sendiri sebagai tanda dukungan dari satuan atau unsur lain.

Dengan kemampuan inilah, kapal selam memberikan berbagai pilihan terhadap pemerintah Indonesia, khususnya untuk TNI AL dalam merencanakan pilihan atau respons dalam bentuk berbagai operasi militer. TNI AL dapat mengirimkan kekuatan kapal selam untuk mengobservasi suatu kegiatan di daerah konflik, dengan tetap memiliki keuntungan deteksi dan inisiatif tanpa terdeteksi.

Selain itu, stealth dan operasi covert kapal selam memberikan suatu kemampuan asimetris terhadap negara pengguna kapal selam. Besarnya pengaruh dari kemampuan asimetris ini tergantung pada ukuran dan jumlah kapal selam dalam satu satuan.

Kapal selam diharapkan bisa beroperasi di seluruh perairan yang menjadi perhatian khusus dan area rawan, sehingga musuh akan berpikir lebih dalam untuk meramu taktik anti kapal selam (AKS). Musuh juga memerlukan anggaran yang lebih besar dalam mengembangkan kemampuan untuk menangkal operasi kapal selam, baik teknologi AKS, kapal permukaan dan unsur AKS lainnya. Inilah yang menyebabkan mengapa kapal selam mempunyai kemampuan asimetris.

Kemampuan asimetris ini yang dapat dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk mempengaruhi suatu kejadian dengan menghadirkan kapal selam di kawasan regional. Karena kapal selam mampu beroperasi sendiri dengan memanfaatkan keuntungan akses di seluruh perairan Indonesia dimana unsur TNI yang lain tidak mampu melaksanakannya. Keuntungan akses kapal selam ini dapat digunakan dalam melaksanakan pengamatan dan penyerangan terhadap musuh di mandala perang atau di wilayah musuh sendiri.

Mencermati perkembangan lingkungan geografi dan strategis, negara-negara di kawasan Indo-Pasifik memiliki pandangan yang sama tentang pentingnya laut dan untuk itu mereka saling meningkatkan kekuatan maritim masing-masing. Pengadaan kapal selam pun meningkat dimana negara-negara tersebut menilai tentang pentingnya karakteristik kapal selam.

Ancaman kapal selam di kawasan pun meningkat dan memberikan tantangan sulit untuk TNI AL di masa mendatang. Walaupun negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia bersifat netral, namun Indonesia wajib untuk tetap meningkatkan pengamatan secara strategis, kemampuan deteksi dan tingkat kewaspadaan.

Memang anggaran dan kekuatan militer kita terbatas, namun Indonesia mempunyai peranan penting dalam mempertahankan kestabilan regional dan global melalui strategi pengamanan kawasan. Sehingga untuk menentukan suatu strategi, bisa dalam diplomatik, ekonomi atau militer, Indonesia harus lebih berpikir asimetris yaitu sedikit unsur dengan efek penggentar yang besar, artinya kebutuhan akan kapal selam adalah sangat perlu.

  Mengapa Harus Kapal Selam Jarak Jauh? 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi85op9OBK8ldqExke7r0iS4FO-pCxX4gDKBWY7u2o1qzpQWvlyLytQAEAdmSm1vmNZ3LNo8LmbpvNUgwFYaHWxc3Q-MaT940biGLN16RT-Acx0KbBU_sJ9mfk2Q3PnIKmlmh7MUBXIB55Q/s1600/German_Type_214_Submarine.jpgType 214 HDW [indiandefensenews]

Luas dan posisi strategis Indonesia memberikan pilihan strategi defence in depth. Strategi ini adalah bagaimana menghancurkan kekuatan musuh sebelum memasuki teritorial Indonesia, saat mendekati pangkalan musuh dan saat transit. Indonesia perlu untuk mengembangkan kemampuan operasi militer jarak jauh sekaligus memberikan kesempatan untuk mempertahankan pengendalian laut dan keamanan di area rawan/choke points.

Karakteristik unik kapal selam akan dapat dimanfaatkan secara optimal jika dioperasikan dalam taktik ofensif atau postur forward deployment. Di dalam konteks kita, ini berarti kapal selam Indonesia harus mampu dioperasikan secara tertutup di luar area teritorial atau pada titik-titik rawan.

Taktik kapal selam ini akan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk dapat mempengaruhi situasi di wilayah yang vital dengan memiliki efek penggentar. Kemampuan ini hanya dapat dilakukan oleh kehadiran kapal selam yang memiliki keuntungan asimetris dan keuntungan akses. Selain itu, pengoperasian kapal selam di garis depan dapat memberikan kewaspadaan, keunggulan pengumpulan intelijen dan pengamatan dimana pemerintah Indonesia dapat memanfaatkannya dalam strategi demi menghindari peperangan skala besar.

Sejak kapal selam dikenalkan dalam pertempuran pada awal abad ke-20, strategi kampanye perang selalu berhasil jika kapal selam dioperasikan dengan taktik ofensif dengan menggunakan pangkalan aju. Awal perang dunia kedua, taktik ofensif kapal selam Jerman terbukti berhasil sebelum pihak Sekutu menemukan tindakan perlawanan yang efektif.

Selain itu, kesuksesan Satuan Kapal Selam Pasifik Amerika yang berhasil menenggelamkan 2/3 armada Jepang di perang dunia kedua. Sebelumnya, di perang dunia pertama, satuan kapal selam Sekutu di Laut Marmora juga menunjukkan keberhasilan strategi garis depan (forward deployment) saat berhasil membatasi kemampuan pasukan Turki saat berusaha mengusir pasukan amfibi Sekutu di Semenanjung Gallipoli.

Kemudian, pangkalan aju kapal selam dalam Perang Dunia kedua adalah penggunaan pangkalan Fremantle dan Brisbane di Australia oleh satuan kapal selam Amerika, Inggris dan Belanda. Saat ini, US Navy mengoperasikan kapal selamnya di wilayah regional kita dengan menggunakan Jepang, Singapura, Australia dan Guam sebagai pangkalan aju. Perlu kita catat bahwa strategi ini sangat efektif dalam hal biaya dan waktu respons. Strategi ini lebih efektif daripada mereka menggerakkan kapal selam dari negara atau pangkalan mereka sendiri.

Namun di sisi lain, Indonesia tidak memiliki pangkalan aju kapal selam di daerah depan (forward territory), sehingga operasi kapal selam kita sangat bergantung pada kapal tender, dimana berpotensi menjadi sasaran musuh. Tetapi menggunakan kapal selam jarak pendek dengan menggunakan kapal tender adalah strategi yang berisiko tinggi.

Kapal tender mempunyai sifat kerentanan yang tinggi dan juga memerlukan perlindungan saat transit atau berada di mandala perang, terutama saat kapal selam melaksanakan bekal ulang atau hanya sekedar sandar. Sehingga, Indonesia perlu mempertimbangkan pengadaan dan penggunaan kapal selam konvensional jarak jauh, sehingga bisa digunakan dalam postur ofensif atau di garis depan, dioperasikan di choke points, menghadang musuh saat transit maupun menghancurkan musuh di wilayahnya sendiri.

  Mampukah Hanya dengan 12 Kapal Selam? 
[​IMG]Modul kapal selam DSME 1400 di galangan PT PAL [Portal Komando]

Pengalaman pengoperasian kapal selam kelas Cakra selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa hanya dengan dua kapal selam, adalah sangat jauh dari jumlah ideal yang diperlukan dalam mempertahankan kehadiran kapal selam di kawasan sampai tidak memiliki efek penggentar. Di dalam MEF disebutkan bahwa minimal 12 kapal selam diperlukan untuk mempertahankan postur operasi kapal selam yang efektif.

Apabila mampu mengoptimalkan kelebihannya, Indonesia akan dapat memaksimalkan efek penggentar secara strategis yang dapat mempengaruhi pilihan taktik musuh. Indonesia memerlukan kapal selam yang mampu beroperasi dan hadir secara terus menerus di area yang jauh.

Pola operasi dua belas kapal selam harus efektif dan terus menerus sehingga mampu menjawab kehadiran pada wilayah rawan dan misi yang berbeda. Rotasi dengan tiap empat kapal selam melaut, empat kapal selam dalam status siaga dan empat dalam perawatan akan dapat mengeksploitasi kemampuan kapal selam secara optimal dan lebih penting lagi dapat mengeksploitasi wilayah bawah laut di kawasan regional.

Indonesia adalah negara yang tidak memiliki sekutu dengan kebijakan politik bebas aktif dan non-blok. Sehingga, strategi pertahanan kita sekarang adalah berdiri sendiri dalam konteks ASEAN dan kerja sama regional.

Indonesia lebih berharap pada kemampuan sendiri sebagai pencegahan dan mengatasi serangan musuh tanpa bergantung pada bantuan negara lain. Indonesia tidak berharap bantuan militer secara langsung jika mendapatkan ancaman sekalipun dari kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, Indonesia harus selalu siap dalam segala ancaman peperangan saat diperlukan. Sehingga, kekuatan dengan 12 kapal selam akan menjadikan Indonesia superior di kawasan dan mampu menjawab segala ancaman. Kekuatan kapal selam yang kuat juga akan berkontribusi penting dan sangat signifikan kepada keamanan maritim regional, menjadikan Indonesia memiliki peran pemimpin di antara negara-negara kawasan regional.

**

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3lrtPyxZec6qqf3jL8Bw_jNULXbBEU4mlXGoUFtXsoChugWB_m9iSF2CO9elaLBUGRHapJb7-PNk3FDIz_JyC4OiP0LgcAoCBimFuDWOIaI9novg3sJDNbVE0fZlzNlPrZDEg6_ccjJze/s1600/IMG-20170615-WA0074.jpgKRI Nagapasa 403 di perairan Korea Selatan. [maritim news]

Sebagai penutup, kapal selam memiliki kelebihan dan karakteristik yang unik dimana membuat mereka menjadi penggentar yang menakutkan kepada lawan-lawannya, yaitu stealth, covert, asimetri dan memiliki keuntungan akses. Ketika Indonesia bergantung pada jalur perdagangan lewat laut termasuk memberikan garansi atas keamanan SLOC, kapal selam konvensional jarak jauh adalah jawabannya. Memiliki kapal selam konvensional jarak jauh ini akan mampu menjaga wilayah rawan dan choke points dengan memanfaatkan kelebihan kapal selam.

Sebuah satuan kapal selam konvensional jarak jauh akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kepentingan global dan memberikan Indonesia peran pemimpin di wilayah regional, mendukung konsep TNI AL saat ini, menjadi Angkatan Laut yang Berkelas Dunia. Kebutuhan ini mampu dijawab dan diatasi dengan mempunyai kekuatan 12 kapal selam konvensional jarak jauh. Satuan kapal selam ini merupakan aset strategis yang sangat penting untuk mendukung kepentingan Indonesia di regional dan global.

Sebagai negara yang tidak bersekutu, industri domestik kapal selam perlu dikembangkan dalam mendesain, membangun, mempertahankan, meningkatkan dan memelihara kemampuan kapal selam dalam usia pakainya. Pengembangan industri kapal selam domestik sangat konsisten dengan strategi pertahanan Indonesia saat ini, yaitu kemandirian dalam alutsista. Program berkelanjutan juga harus seimbang antara sumber daya yang tersedia dan dapat dipertahankan sesuai usia pakai.

Tujuannya adalah memiliki kekuatan kapal selam dengan jumlah dan kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan strategis Indonesia, didukung oleh industri domestik dengan keterampilan dan kapasitas, untuk dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan kapal selam, dalam rangka menuju “World Class Navy” dan menjadi yang terdepan di dalam peperangan bawah air di kawasan regional.

Oleh : Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS
Penulis adalah lulusan AAL tahun 1998, saat ini berdinas di Srena Koarmatim.

  Maritim News  

Senin, 22 Mei 2017

[Video] Pembuatan KMC Komando

Produksi anak bangsa KMC Komando PT Tesco Indomaritim

Tahukah anda bila PT Tesco Indomaritim telah membuat sekitar 40 unit KMC komando dan 2 unit lainnya dalam penyelesaian yang akan rampung tahun 2017 ini.

PT Tesco Indomaritim telah membangun KMC Komando puluhan unit pesanan TNI AD maupun TNI AL.

Panjang keseluruhan KMC Komando adalah 17,60 meter dengan lebar 4,20 meter dan tinggi 2,15 meter. Kapal ini memiliki kecepatan 45 knots dengan tenaga pendorong water jet dan dilengkapi oleh tanki air tawar dengan volume 500 liter. Awak KMC Komando berjumlah 3 orang dan mampu membawa sekitar 31 prajurit di dalamnya.

Kapal KMC Komando TNI AD NewSelain itu, kapal ini juga dilengkapi oleh kompas, GPS, Radio SSB, Radio HT, Ring Bouy, dan 2 Life Raft. Kapal buatan dalam negeri ini digunakan untuk operasi rawa dan pantai.

Untuk persenjataan, KMC Komando dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer.

KMC Komando juga memiliki sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.

 Berikut video pembuatan KMC komando dari Youtube diposkan Muhamad Irfai : 


  Indonesia Teknologi  

Minggu, 21 Mei 2017

[Video] Sekilas KAL 28 Propeller

Buatan PT Tesco Indomaritim Dari website PT Tesco, diberitakan TNI AL telah memesan sebanyak 13 unit yang telah rampung 12 unit dan 1 dalam pembangunan yang akan tuntas tahun 2017 ini.

Kapal dengan panjang 28 meter, Berat sekitar 70 ton mampu di pacu dengan mesin pendorong jenis propeller hingga 28 knot.


Berikut video di upload Muhamad Irfai dari Youtube :

  Garuda Militer  

Minggu, 14 Mei 2017

STM-TKMS Offers Three Type 214 Submarines for Indonesian Navy

The first submarine would be built in Turkey and two more in Indonesia Scale model of Type 214TN on TKMS stand at IDEF 2017 [Navy Recognition]

During IDEF 2017, the international defense exhibition held in Istanbul, Turkish company STM signed a LOI (letter of intent) with German Shipbuilding group ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS).

Talking to Navy Recognition, an STM representative explained that the LOI calls for cooperation between the two companies on a potential contract to built three submarines for the Indonesia Navy (TNI AL). The first submarine would be built in Turkey and two more in Indonesia.

The design being offered is based on the future Turkish-configuration Type 214 diesel-electric submarine (SSK) currently being built by Gölcük Naval Shipyard in Kocaeli for the Turkish Navy (six Type 214TN submarines have been ordered).

As part of the agreement, STM would act as prime contractor if Indonesia was to select the Type 214 design. Other companies such as DSME from South Korea and DCNS from France are also proposing their design to Indonesia.

The Type 214 SSK is developed by Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW). It features diesel propulsion with an air-independent propulsion (AIP) system using Siemens polymer electrolyte membrane (PEM) hydrogen fuel cells. The Type 214 submarine is derived from the Type 212.

Type 214 submarines have a length of 65 m., a beam of 6.3 m, a draught of 6 m. and are capable of diving to a depth of 400 m. Their crew is comprised of 40 sailors. Their weapons include mines, torpedoes and anti-ship missiles which are launched from eight 533 mm. tubes.

  Navy Recognition  

Senin, 08 Mei 2017

Koarmatim Ujicoba Eneco Plasma Fusion

Pengolah air bersama solar menjadi bahan bakarEneco Plasma Fusion

Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) melaksanakan Uji coba Alat Eneco Plasma Fusion, Uji coba dipimpin langsung oleh Presiden and CEO Eneco Holdings Mr. Yasuhiro Yamamoto bertempat di gedung Eneco Plasma Fusion Koarmatim, Ujung, Surabaya. Senin, (08/05/2017).

Alat Eneco Plasma Fusion ini merupakan alat dari perusahaan Eneco Holdings dari Jepang yang mampu memperkecil anggaran, dan dinilai dapat menghemat penggunaan bahan bakar solar serta hasilnya juga dapat digunakan untuk berbagai macam kendaraan berbahan bakar solar, ujar Yasuhiro.

Hal ini karena mesin tersebut dapat mengolah 50 persen air dan 50 persen solar menjadi bahan bakar yang dapat digunakan pada semua mesin yang menggunakan solar. Dalam waktu 24 jam, mesin ini dapat menampung 12.000 liter air dan solar.

Selain itu, di Jepang sendiri saat ini belum banyak perusahaan yang bisa melakukan pencampuran proses air menjadi bahan bakar karena harus mendapatkan izin atau lisensi dari pemerintah, dan hanya perusahaan Eneco Holdings yang mampu lulus uji lisensi dari pemerintah Jepang.

Teknologi Eneco Plasma Fusion merupakan teknologi yang bisa merealisasikan rasio percampuran air sekitar 70%, baik air ledeng maupun air sumur dengan proses penyulingan bahan bakar yang telah dilakukan “Plasma Fusion” dengan ditambahkan air kembali pembakaran tidak berubah.

Komisaris PT. Eneco Holdings. INC Bpk. Bambang Sulistyo dalam wawancara di hadapan media menyampaikan bahwa peralatan ini murni di hibahkan kepada TNI AL, dan sistem kerja peralatan ini mempunyai sistem kerja secara sistematik antara air dan solar dengan hasil 100 % hasilnya solar. Dan apabila yang dihasilkan mempunyai masalah pihak kami akan mengasuransikan satu juta US, dan alat ini hanya dipakai untuk mesin diesel, serta rencana peralatan ini untuk pertam kalinya di Armatim sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai bahan bakar KRI.

Sebelum acara di mulai diadakan syukuran potong tumpeng oleh Mr. Yasuhiro Yamamoto yang diserahkan kepada Kepala Dinas Material Perbekalan (Kadismatbek) Koarmatim Kolonel Laut (T) Budiyono.Hadir dalam acara tersebut, Kadismatbek Koarmatim, Letkol Laut (KH/W) Uciek Darmayani yang sehari-harinya menjabat sebagai Pamen Slog Koarmatim, dan seluruh staf Eneco Holdings beserta undangan.

   Koarmatim  

Selasa, 25 April 2017

Dua Kapal Selam dari Korsel Segera Dikirim

Tiga kapal selam TNI AL buatan DSME Korea Selatan [Korps Hiu Kencana] ★
Kekuatan armada Angkatan Laut Indonesia bakal semakin tangguh. Juni mendatang, dua kapal selam jenis Chang-Bogo yang dipesan dari Korea Selatan akan dikirimkan. Kapal yang rencananya diberi nama KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 itu bakal memperkuat Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya.

’’Saat ini yang punya fasilitas markas kapal selam baru Koarmatim. Maka, kapal baru itu nanti juga akan bermarkas di sana,’’ jelas Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksda Achmad Taufiqoerrochman.

KRI Nagapasa 403 dan KRI Ardadedali 404 dibuat oleh Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Seharusnya selesai Maret lalu. Namun, karena beberapa hal, kapal baru dikirimkan Juni. Saat ini dua kapal bertenaga diesel tersebut sudah meninggalkan galangan DSME untuk menjalani serangkaian uji di perairan Korea Selatan.

Sebenarnya, ada tiga kapal selam yang dipesan Indonesia. Satu lagi adalah KRI Alugoro 405. Kapal itu saat ini masih berada dalam perencanaan produksi.

Taufiq menjelaskan, mundurnya pengiriman KRI Nagapasa dan KRI Ardadedali disebabkan penyelesaian yang harus bersamaan. KRI Nagapasa harus menunggu selesainya konstruksi KRI Ardadedali untuk memulai uji coba. ’’Kalau satu diuji, satunya juga harus menemani,’’ ucapnya.

Ke depan, TNI Angkatan Laut akan menambah markas kapal selam. Dengan demikian, kapal selam tidak hanya bermarkas di Surabaya. Yang paling berpotensi untuk menjadi pangkalan kapal selam adalah Teluk Terate, Lampung. Tanah di lokasi teluk juga sudah merupakan aset milik TNI-AL. ’’Rencananya sudah lama, sejak zaman Presiden Soeharto,’’ ujarnya.

Saat ini Indonesia hanya memiliki dua kapal selam kelas Whiskey buatan Rusia. Yaitu, KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Setelah kedatangan kelas Bogo, dua kapal era Perang Dunia II itu akan tetap dioperasikan.

Sementara itu, Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Koarmatim Kolonel Indra Agus Wijaya mengatakan, markas satuan kapal selam sudah mempersiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk kedatangan tiga kapal selam Bogo. ’’Dermaganya sudah siap untuk tiga kapal. Berdampingan dengan dermaga yang ditempati Cakra dan Nanggala,’’ ujarnya.

Selain itu, saat ini prajurit TNI-AL dari satuan kapal selam sudah melakoni serangkaian pelatihan di beberapa negara seperti Jerman, Spanyol, dan Norwegia. Kru kapal pertama, KRI Nagapasa, juga sudah berangkat ke Korea Selatan untuk latihan operasional sejak beberapa bulan lalu. ’’Satu kapal nanti diawaki oleh 40 orang,’’ katanya.

  Pontianak Post  

Senin, 24 April 2017

Keel Laying PC 40 M

Keel Laying PC 40 M [Koarmabar]

Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog Kasal) Laksamana Muda TNI Mulyadi, S.Pi., M.A.P., didampingi Kadisadal Laksamana Pertama TNI Prasetya Nugraha, S.T., Kadismatal Laksamana Pertama TNI Azis Ikhsan Bachtiar dan Kadisopslatal Laksamana Pertama TNI Didik Setiono meninjau lokasi pembuatan kapal perang jenis kapal cepat 40 Meter dengan persenjataan di Galangan Kapal PT. Caputra Mitra Sejati (CMS) Banten Jalan Salira-Bojonegara, Puloampel, Kabupaten Serang, Banten. Kamis (20/4).

Rombongan lain yang juga turut hadir dalam kegiatan tersebut yakni Kasubdis Adagri Disadal Kolonel Laut (T) Supriyanto, Paban 1 Srenal Kolonel Laut (P) Dafit Santoso, Paban VI Slogal Kolonel Laut (T) Eddy S, Sekdissadal Kolonel Laut (T) Supriatno dan Kasubdis Dalada Disadal Kolonel Laut (T) Edhi Prasetya.

Dalam kunjungannya Aslog Kasal beserta rombongan disambut dan didampingi oleh Dirut PT. CMS Bapak Kriss Pramono beserta jajaran direksi PT. CMS, Danlanal Banten Kolonel Laut (P) Rudi Haryanto S.E Dansatgas PC 40 TA. 2016 Kolonel Laut (T) Al Sunaryo serta Dansatgas PC 40 TA. 2017 Kolonel Laut (T) Christanto Pratomo.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvcwhbCrSh9oxUcCLLvi6BhqalyPkr9z3ICPycR3GTm4rDrbUgZvf4qGYh0lOkiAvs8DpKoWkwXaELaitA21GQwAKwbbKglNoKC3SZeumiwqA9mbCxIR4ee2SX5jQENf3BoHY8XYJmakvV/s1600/pc-40-3KRI+Tatihu+%2528853%2529.jpgDalam amanatnya, Aslog Kasal menyampaikan ucapan terima kasih kepada Direktur Utama PT. CMS beserta jajarannya atas terselenggaranya Pembangunan Kapal PC 40 Meter yang dilaksanakan oleh PT. Caputra Mitra Sejati merupakan realisasi dari renstra pembangunan kekuatan TNI Angkatan laut menuju pencapaian kekuatan pokok Minimum atau Minimum Essensial Force, sekaligus merupakan komitmen TNI Angkatan Laut dalam mengimplementasikan UU No 16 tahun 2012 yaitu untuk pemberdayaan industri dalam negeri.

Lebih lanjut Aslog Kasal mengatakan saat ini pembangunan Kapal PC 40 Meter pesanan TNI Angkatan Laut yang dibangun di galangan PT. Caputra Mitra Sejati telah memasuki tahapan Keel Laying yang merupakan simbolik dimulainya pekerjaan kontruksi dalam pembangunan Kapal Perang yang mengandung pengertian munculnya wilayah baru, Negara, Bendera. Dengan demikan, Keel Laying adalah kegiatan yang penting dalam Sequence pembangunan kapal perang.

Aslog Kasal berharap agar pembangunan kapal cepat ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan tepat mutu yang tentu untuk mencapainya dibutuhkan kerja keras, kerja serius dan kerja cerdas baik oleh pihak galangan maupun dari Satgas.

  ⚓ Koarmabar  

Sabtu, 22 April 2017

TNI AL Bangun Kembali Tiga Kapal Angkut Tank

✈ Di Lampung Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog Kasal) Laksamana Muda TNI Mulyadi, S.Pi., M.A.P. melaksanakan kunjungan kerja ke galangan kapal PT. Daya Radar Utama (DRU) di Panjang, Bandar Lampung dalam rangka pemotongan plat pertama (first steel cutting) pembangunan tiga unit kapal angkut tank, Jumat (21/04).

Kedatanganya di bandara Radin Intan II Lampung, Aslog Kasal beserta rombongan disambut oleh Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Lampung Kolonel Laut (P) Kelik Haryadi, S.H., M.Si. dengan Danbrigif 3 Mar Kolonel Mar Hermanto, S.E., M.M. dan beberapa Perwira.

First Steel Cutting merupakan sebagai tanda dimulainya fabrikasi pembangunan tiga unit kapal TNI AL jenis LST, yaitu AT- 5, AT-6 dan AT-7 sesuai kontrak kerja yang yang telah ditandatangani pada bulan Januari 2017.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqYWPg-9zROtjgOnZtXRI_VLBk2uDwcFyL3qVl4GyUabW4qvUvXFcHQnd160oua9ytZQj_TNi0WaB1GfwzihKUxMuWtW7Hn9E9mk615XBtLDtujNel2Vgiqu0LIgSZanCtsI1FUriO_JU/s1600/04-MV-BINTUNI-DIBAJAK-DI-LAUT-JAWA-1-800x445.jpgTerima kasih kami sampaikan kepada TNI AL yang telah memberikan kepercayaan untuk membangun tiga unit kapal angkut tank, sebelumnya kami telah banyak belajar dari membangun kapal LST AT-3 KRI Teluk Bintuni dan saat ini kami juga sedang proses membangun kapal LST AT-4, komitmen kami adalah menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu dan tepat mutu” kata Agus Gunawan selaku Dirut PT. DRU dalam sambutannya.

Dalam sambutannya, Aslog Kasal menyampaikan “Pembangunan kapal AT-5, 6 dan 7 oleh PT. DRU merupakan hasil realisasi dari renstra pembangunan kekuatan TNI AL, pembangunan kapal-kapal TNI AL di galangan dalam negeri merupakan bentuk komitmen TNI AL dalam mendukung pemerintah dalam pemberdayaan potensi nasional yang tertuang dalan undang-undang nomer 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan”

Tahapan First Steel Cutting merupakan awal kegiatan fabrikasi, masih panjang teknis pembangunan sebuah kapal, masih ada tahap keep laying, launching dan pengetesan-pengetesan lainya, harapanya seluruh kegiatan dapat diselesaikan dengan baik dan dibutuhkan kerja keras, kerja serius dan kerja cerdas”.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZrla-sSW9wLfmMw0-y1OpGE9bkVghpj1_ufJRAQN7Pw8cBn8Ui4K9xS_Z9YxUK9gOCeDf9aZco3I4gha3KEC-56IiTXlB_GFhXlpioiwjdlR2BNmdetnMpDzQzN7MlLcNB3mQ4UDWnded/s1600/lpd-lcu.jpgAcara First Steel Cutting dilaksanakan di workshop CNC PT. DRU ditandai dengan penekanan tombol sirine dilanjutkan dengan penandatangan berita acara oleh Kadisadal dan Dirut PT. DRU serta penyerahan siluet kapal AT-5, 6 dan 7 dari Dirut PT. DRU kepada Aslog Kasal, Kadisadal dan Kadismatal yang diahiri dengan foto bersama.

Hadir dalam acara tersebut Kadisadal Laksma TNI Prasetya Nugraha, S.T., Kadismatal Laksma TNI Aziz Ikhsan Bachtiar, Pati Itjenal Laksma TNI Dadi Hartanto, M.Tr (Han) dan beberapa Pamen dari Mabesal serta Manager dari PT. DRU.