Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAPAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juni 2017

PTDI Masih Tunggu Investor

✈ Bikin Pesawat N245 http://www.ainonline.com/sites/default/files/styles/ain30_fullwidth_large_2x/public/uploads/2016/11/atp_n245_pic.jpg?itok=sURMtQN1&timestamp=1478705948✈ N245  [David Donald]

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) masih menunggu dana segar untuk memulai pembuatan pesawat N245. Pesawat N245 masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tahun ini.

Pesawat N245 yang merupakan pengembangan dari CN235 yang pernah dibuat oleh PTDI dengan perkiraan biaya sekitar US$ 200 juta.

"Belum ada (komitmen pendanaan). Masih belum ada (investor) sampai saat ini," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Arie menambahkan, pengembangan N245 dibutuhkan payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres). Sehingga ada jaminan kepada investor akan keberlangsungan proyek ini.

"Sepertinya demikian (masih menunggu payung hukum)," ujar Arie.

Pasalnya jika sudah dikategorikan sebagai PSN, PTDI tidak semata-mata menunggu pendanaan dari pemerintah. Melainkan mencari alternatif pendanaan dari investor.

"Karena walaupun sudah dikategorikan PSN, namun pendanaannya kan harus mencari sendiri bukan diberikan pemerintah," tutur Arie.

 Belum Ada Pendanaan 

Pengembangan pesawat N245 sampai saat ini belum dilakukan karena masalah pendanaan. PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) masih menunggu dana segar dari investor untuk memulai pengembangan pesawat yang masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan dengan belum adanya komitmen pendanaan, maka penerbangan perdana N245 diperkirakan mundur dari rencana di 2020.

"Tentu nya akan bergeser (dari 2020) sesuai ketersedian dana," ujar Arie kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Untuk menarik minat investor asing menanamkan modalnya untuk mengembangkan pesawat N245, Arie menambahkan, pihaknya masih menunggu payung hukum dari pemerintah berupa Peraturan Presiden (Perpres).

Selain itu, komitmen pendanaan dari pemerintah juga diperlukan untuk memacu investasi dari swasta. Sehingga investor yakin menanamkan uangnya untuk mengembangkan N245.

"Harus ada komitmen finansial pemerintah dalam mendanainya sebagian kemudian pihak swasta atau asing baru akan tertarik melakukan investasi," tutur Arie (ang/ang)

  detik  

Jumat, 26 Mei 2017

Italia Jajaki Kerja Sama Bidang Penerbangan dan Antariksa dengan LAPAN

Salah satu pemaparan pihak Italia ke LAPAN, yaitu bidang - bidang yang digeluti Leonardo Company

Rabu (17/05), di Ruang Pamer Hasil litbang, Kantor LAPAN Pusat, Jakarta, pimpinan LAPAN menerima kunjungan Kedubes Italia bersama dengan perwakilan perusahaan yang bergerak di bidang penerbangan dan antariksa. Mereka adalah Alessandro Garbellini (Kedubes Italia), Pietro Bruno (Leonardo), Claudio Serafini (e-geos - Telespazio), serta Enrico Russo dan Alessandro Areso (Agenzia Spaziale Italiana - ASI).

Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menyambutnya, didampingi Deputi Bidang Penginderaan Jauh, Dr. Orbita Roswintiarti, Deputi Sains Antariksa dan Atmosfer, Afif Budiyono, dan Kepala Biro Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Umum, Christianus R. Dewanto.

Kunjungan Tim Italia bermaksud untuk menjajaki peluang kerja sama pihaknya dengan LAPAN. Pertemuan dibuka dengan pemaparan kompetensi utama LAPAN oleh Kepala LAPAN. Dalam presentasinya, ia mengawali penjelasan tentang program LAPAN terkait pengembangan sistem pendukung keputusan yang dikenal dengan Decision Support System (DSS) di bidang antariksa dan atmosfer.

Beberapa sistem informasi disampaikan antara lain pemanfaatan aplikasi Space Weather Information and Forecast Service (SWIFtS), sistem pemantauan sampah antariksa secara realtime, sistem pemantauan bencana hidrometeorologi dengan menggunakan Satellite Disaster Early warning System (SADEWA), pemanfaatan Sistem Embaran Maritim (SEMAR) untuk panduan nelayan dalam mencari ikan dan pemantauan keamanan wilayah laut, serta penjelasan terkait keterlibatan LAPAN dalam The International Space Environment Service (ISES).

Kepala LAPAN juga mengenalkan salah satu produk hasil litbang LAPAN di bidang satelit dengan menunjukkan hasil pemantauan Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB. Sesuai misinya, satelit tersebut mendukung pemantauan wilayah perairan Indonesia dengan muatan Automatic Identification System (AIS). Gunanya, salah satunya untuk pengawasan illegal fishing. Untuk pemanfaatan sistem ini LAPAN secara konsisten bekerja sama dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Thomas juga menyampaikan pengembangan roket LAPAN secara mandiri. Dipaparkan pula pengembangan teknologi penerbangan terkait program pesawat terbang N219, N245, sampai dengan N270. LAPAN juga mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak.

Untuk meningkatkan kompetensinya, LAPAN juga menjalin kerja sama di tingkat internasional, antara lain dengan CNES - Perancis, JAXA - Jepang, dan Cina. “Saat ini, kami juga sedang membangun observatorium nasional di Kupang yang ditujukan untuk pengamatan astronomi para peneliti internasional,” jelasnya.

Pihak Italia menanggapinya dengan memaparkan berbagai bidang yang digeluti e-geos, Leonardo, dan ASI. Leonardo diakui sebagai perusahaan teknologi tinggi di tingkat dunia di bidang penerbangan, pertahanan, dan keamanan. Produknya yaitu helikopter, pesawat terbang, aerostruktur, kendaraan peluncur luar angkasa, serta sistem informasi keamanan laut dan darat.

Perusahaan ini piawai dalam kegiatan peluncuran roket dan pengorbit kendaraan luar angkasa. Beberapa contoh program utamanya yaitu misi Galileo, COSMO-Skymed, Copernicus, SICRAL, ATHENA-FIDUS, Rosetta, Exomars, dan pengelolaan Bandar Antariksa Internasional. Kegiatannya bergerak di bidang telekomunikasi, observasi bumi, navigasi, ilmu pengetahuan, dan penjelajahan ruang angkasa.

Alesandro menyatakan bahwa pihaknya berkeinginan untuk membuka peluang kerja sama dengan LAPAN. Salah satunya kerja sama peningkatan kapasitas SDM dengan pertukaran ilmu pengetahuan. “Kami selaku penghubung dengan beberapa universitas di Italia sangat terbuka bagi LAPAN jika ingin memanfaatkannya,” tuturnya.

Kepala LAPAN menyambut baik tawaran kerja sama tersebut. “Kami dapat memanfaatkan program Kemenristekdikti untuk Pendidikan Non Gelar (PNG) Riset Pro dengan estimasi waktu pendidikan mulai dua minggu sampai dengan tiga bulan,” ungkapnya. Sementara Orbita berharap, pihaknya dapat menjalin kerja sama di bidang penginderaan jauh untuk pengoperasian stasiun bumi, serta pengolahan data dan aplikasinya.

Kedua pihak akan memperdalam lagi peluang tersebut ke dalam ruang lingkup yang akan dikaji kemudian. Termasuk, menindaklanjutinya dengan mengusulkan ke pemerintah untuk upaya penyusunan payung kerja sama kedua negara.

  LAPAN  

Senin, 15 Mei 2017

Malaysia Belajar Teknologi Pembuatan Satelit Indonesia

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/04/25/571dc8bc72c6c-satelit-lapan-a3_663_382.jpgSatelit LAPAN [Viva]

T
idak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang paling maju dalam bidang penerbangan dan antariksa. Hal tersebut praktis mengundang beberapa negara tetangga yang tertarik bekerja sama dalam bidang ini.

Setelah beberapa waktu yang lalu, Jawatan Perikanan Malaysia berkunjung ke LAPAN untuk berdialog dengan peneliti LAPAN mengenai Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), selanjutnya pada Senin (08/05) Norilmi Amalia dan tim berkunjung ke Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) LAPAN di Bogor.

Norilmi Amalia adalah seorang dosen dari Universiti Sains Malaysia (USM) yang juga sebagai Kepala Proyek MYSat – Malaysia. Kedatangan Norilmi dan tim disambut oleh Kepala Bidang Diseminasi Pusteksat, Iwan Faizal didampingi tim Surya Satellite dari Surya University.

LAPAN mempresentasikan mengenai satelit LAPAN-A1/ TUBSat, LAPAN-A2/ Orari, LAPAN-A3/ IPB yang telah diluncurkan dan perkembangan satelit LAPAN-A4 dan A-5. Lalu, tim Surya Satellite mempresentasikan perkembangan satelit mereka yaitu Surya Satellite 1 (SS1) yang sedang mereka kerjakan di bawah bimbingan peneliti Pusteksat. Tim USM juga menjelaskan kondisi perkembangan teknologi khususnya mengenai satelit di negara Malaysia.

Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke berbagai fasilitas Pusteksat. Mereka mengunjungi ruang Assembly, Integration and Test (AIT) dilanjutkan menuju Ground Station Pusteksat sebuah ruangan untuk memonitor satelit. Saat berada di ruang monitoring satelit tersebut, tim USM dijelaskan tentang monitoring satelit dan diperlihatkan sampel data yang berhasil diperoleh satelit LAPAN. Kunjungan dilanjutkan demo pertunjukan SS1 dari Surya Satellite, khususnya tentang cara kerja satelit tersebut. Selanjutnya acara diakhiri dengan tukar-menukar cinderamata dan foto bersama.

  ★ LAPAN  

Selasa, 09 Mei 2017

N219 Terbang Bulan Ini

Buatan Bandung https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7zJKnzUywujXKfvPiCUOExeIrexg29Izr0fSrwvB8U6M50CBW-lANEUF9bjDQ5GxsYDPis-7NiavTyCJrqqXKqAov1tFp5_SdD86MqyIcgN9C5T11LPFSmyBgMviQov_uJfo5SUIrCCBU/s1600/n219.jpgground test N219  [def.pk/pt1v4t33r]

Pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) akan uji terbang perdana Mei ini. Sekarang, pesawat buatan Bandung ini tengah memasuki tahap ground test.

Ground test yang dilakukan meliputi tes bionik, elektronik, hidrolik, hingga mesin pesawat. Ground test sangat penting dilakukan untuk memastikan pesawat N219 benar-benar siap untuk diterbangkan perdana Mei ini.

"Uji coba ground testing sudah dimulai untuk persiapan uji terbang Insya Allah bulan ini," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Mengenai lokasi uji terbang perdana pesawat N219, PTDI masih merahasiakan di mana tempat tersebut. Namun, ditargetkan pesawat N219 bisa melakukan uji terbang perdana bulan ini.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, menambahkan dilakukannya uji terbang perdana pesawat N219 tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat saat ground test.

"Uji terbang perdana bukan perayaan jadi kami tidak menentukan tanggalnya, melainkan tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat engineering dan ground test yang saat ini hampir selesai," kata Andi.

 Harus Uji Terbang 300 Jam 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgd_6QFzzGqSUUJ10gsmzwC3IOmboJgYvFyezp_iMt7UmIHvw56w9FAIeANnJyq3MYJWUJGGLOyHE0GmD9W7jRN3Nh__pe0rStG6XFjNFZz3fGA_ukjYN7SxJldfvCB6PAD7e5TyCP8zlC/s1600/n219.jpg[Dok. PTDI]

Pesawat N219 yang diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), akan diuji terbang perdana Mei ini. PTDI akan melakukan uji terbang pesawat buatan Bandung ini hingga jam terbangnya mencapai 300 jam. Uji terbang dilakukan menggunakan dua pesawat N219.

Setelah berhasil melalui uji terbang selama 300 jam, nantinya pesawat N219 bisa mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan agar bisa diproduksi massal.

"Nanti uji terbangnya harus bisa menempuh sampai sekitar total akumulasi 300 jam, supaya bisa meyakinkan pihak otoritas Kementerian Perhubungan pesawat bisa terbang," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Sedikitnya ada dua prototipe pesawat N219 yang disiapkan PTDI untuk melakukan uji terbang. Pesawat pertama memasuki tahap ground test, sedangkan lainnya sedang tahap konstruksi.

Setelah selesai melewati ground test, prototipe pertama N219 dilakukan uji terbang perdana Mei ini, sedangkan prototipe N219 kedua ditargetkan uji terbang perdana tahun ini.

"Kedua mudah-mudahan tahun ini juga bisa kita terbangkan," ujar Arie.

Arie menambahkan, seluruh pengujian pesawat N219 bisa selesai paling lambat akhir tahun ini. Sehingga PTDI mendapatkan sertifikat dari Kementerian Perhubungan untuk memproduksi pesawat N219 secara massal.

"Kita target akhir tahun ini, tapi belum tahu bisa tercapai atau tidak. Mungkin di awal 2018, belum tahu, kami ingin step by step dulu," tutur Arie. (hns/wdl)

 Diproduksi Massal Tahun Depan 
Pesawat N219 Buatan RI Terbang Perdana Bulan IniPesawat N219 besutan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan diproduksi massal di 2018 mendatang. Pesawat buatan Bandung ini tengah melakukan ground test dan ditargetkan dilakukan uji terbang Mei ini.

Produksi massal pesawat N219 bisa dilakukan setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan sertifikat melalui berbagai pengujian yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun ini.

"Harapan kita 2018 bisa mulai produksi massal," kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

Jumlah pesawat N219 yang akan diproduksi, lanjut Arie, tergantung dari pesanan dari maskapai.

"Tentunya diharmonisasi dengan kebutuhan pasar dan kemampuan kita produksi," tambah Arie.

Meskipun masih perlu melewati serangkaian pengujian, pesawat N219 sudah dipesan, salah satunya oleh Trigana Air.

Namun, para maskapai harus bersabar hingga pesawat N219 mendapatkan sertifikat agar bisa diproduksi massal.

"Sudah ada beberapa MoU tertarik, khususnya dalam negeri. Sudah ada satu dari negara tetangga untuk pesawat ini, tapi harus tunggu sampai dapat sertifikasi," tutur Arie.

 Dirancang Terbangi Daerah-daerah Terpencil 
Pesawat N219 Buatan RI Terbang Perdana Bulan IniPesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah melakukan rangkaian uji sebelum terbang perdana Mei ini.

Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo mengungkapkan, pesawat N219 nantinya menjadi angkutan udara ke daerah yang sulit dijangkau pesawat berbadan besar. Sehingga konektivitas antar daerah bisa semakin mudah.

"Kalau di daerah kan infrastrukturnya terbatas. Jadi kita bikin pesawat tidak butuh banyak ground suppport atau equipment khusus," ujar Arie saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (8/5/2017).

"Basic N219 pesawat perintis terjangkau untuk pengadaannya, terjangkau operasional cost-nya di daerah-daerah," tambah Arie.

Keunggulan utama yang diberikan pesawat N219, lanjut Arie, memiliki keunggulan bisa lepas landas dalam lintasan pendek. Sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terluar Indonesia.

"Fitur utama yang kita mau jual pesawat yang gampang digunakan dan gampang dirawat," ujar Arie.(hns/ang)

 Direncanakan Bisa Mendarat di Air 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUz7oU-Ynv2CV5J1Y7dCTbbqVKGjdOfDx9Xtm19dRAV5Ab5cal2WZ21OAJ97lCxLUm6xBXbsix4xy75GGEvVw3vtpY-DJpZpGUa5qHFJbDBZq5ovWBXtMI6HuxvHlv0uo3vR0dKgW2omg/s1600/642fa67d-ff8e-4a51-9d7c-fc84f2af2cda_169.jpgPT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) berencana membuat pesawat N219 Amphibious Version. Pesawat ini merupakan pengembangan dari N219 yang nantinya bisa mendarat di air dan di darat.

Pesawat ini rencananya akan dimulai desainnya pada akhir tahun 2018 mendatang. Produksi pesawat N219 amfibi ini akan dimulai setelah pesawat N219 mendapatkan sertifikasi.

"Kalau ada kebutuhan itu akan kita desain setelah selesai sertifikat di N219. Kita dapatkan sertifikasi dulu, kalau sudah selesai baru amfibi. Harapan kita 2018 akhir kita mulai desain," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).

Pesawat N219 amfibi ini memiliki panjang badan 16,74 meter dengan tinggi 6,18 meter. Sedangkan lebar sayap pesawat 19,50 meter.

Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter dengan kapasitas penumpang 19 orang.

Agar bisa mendarat di air, bagian bawah pesawat dilengkapi dengan tambahan yang mirip seperti perahu nelayan. Jika ingin melakukan pendaratan di darat, roda pesawat akan keluar dari dari landing gear.

"Paling maksimum tinggal penambahan, tadinya sertifikasi landing di runway, kita mesti bisa landing di air ada beberapa development dan uji ulang pesawat," kata Arie. (dna/dna)

  detik  

Minggu, 07 Mei 2017

Kajian Varian N219 Amfibi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUz7oU-Ynv2CV5J1Y7dCTbbqVKGjdOfDx9Xtm19dRAV5Ab5cal2WZ21OAJ97lCxLUm6xBXbsix4xy75GGEvVw3vtpY-DJpZpGUa5qHFJbDBZq5ovWBXtMI6HuxvHlv0uo3vR0dKgW2omg/s1600/642fa67d-ff8e-4a51-9d7c-fc84f2af2cda_169.jpg✈ Ilustrasi  N219 Amfibi [PTDI]

Indonesia memiliki pasar dan peluang yang sangat besar dalam industri aeronautika. Hal tersebut disampaikan Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin saat memberikan sambutan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Kesiapan Komunitas Dirgantara Indonesia (Industri, MRO, IAEC, INACOM, Regulator) dari Teknis, Project Management dan Bisnis dalam Menyambut Program Strategis Nasional.

Kegiatan berlangsung di Auditorium Balai Pertemuan Dirgantara Kantor Pusat LAPAN, Jakarta, Kamis (04/05). Acara ini bertujuan untuk mengkaji pesawat N219 varian amfibi.

Thomas juga menjelaskan program prioritas nasional dan proyek strategis nasional bisa selaras. Hal tersebut dapat memacu dan mendorong cita-cita dalam industri penerbangan yang maju mandiri. N219 diharapkan bisa mendarat di pulau kecil dan perairan.

Hal ini sesuai harapan Presiden Joko Widodo agar selanjutnya dikembangkan pesawat kelas menengah dengan payload 30 sampai 60 orang. Keinginan itu pernah disampaikannya saat meninjau proyek N219. Ada cita-cita dan komitmen kuat, sehingga dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah dicantumkan program N219, N245, N270.

Ditjen Penguatan Inovasi RistekDikti, Jumain Appe mengatakan, N219 merupakan kebangkitan penerbangan nasional yang kedua setelah Indonesia berhasil menerbangkan pesawat buatan bangsa N-250 Gatotkaca. Karena, secara spesifik negara indonesia yang terdiri dari kepulauan memerlukan dukungan nasional dalam transportasi penerbangan. Tipe daerahnya dengan jarak pendek yang membutuhkan konektivitas agar terwujud perekonomian yang merata. N219 sangat tepat, industri komponen nasional perlu dikembangkan untuk mendukung pembuatan N219.

Berdirinya Indonesia Aeronautics Engineering Centre (IAEC) sangat penting dalam mendorong industri penerbangan secara penuh. Material yang dibuat oleh industri komponen dalam negeri harus dikembangkan untuk menyokong proyek penerbangan. Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan menerangkan, “Kita harus mampu membuat komponen dalam negeri. Meningkatkan konten lokal akan menjadikan kemandirian dalam penguasaan teknologi penerbangan pada khususnya.”

LAPAN menginisiasi kegiatan ini karena kerja sama dengan IEAC sangat diperlukan untuk mendorong industri dalam negeri. Langkah ini untuk menjadikan bangsa ini mandiri dalam bidang teknologi penerbangan dan antariksa. Diskusi sehari ini selain membahas mengenai N219-A (Amfibi), juga dikaji kelayakan pengembangannya. Rencana pengembangan N219 dikupas mulai dari aspek teknis, project management, dan bisnis.

  LAPAN  

Selasa, 02 Mei 2017

LAPAN Kembangkan Satelit Mikro Sensor Profesional

http://image.slidesharecdn.com/djamaluddin-150319144916-conversion-gate01/95/iloa-galaxy-forum-sea-indonesia-djamaluddin-10-638.jpg?cb=1426792962Micro Satelit LAPAN ★

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) selama lima tahun kedepan akan mengembangkan satelit mikro dengan sensor yang lebih profesional.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin di Jakarta Selasa mengatakan, kendala anggaran yang terbatas membuat strategi pengembangan satelit mengalami perubahan.

Walaupun demikian, satelit yang akan dikembangkan oleh LAPAN saat ini nantinya memiliki tipe seperti satelit komersial.

"Ketika tahun 2021, Lapan mulai akan mengembangkan satelit mikro untuk profesional," ujarnya ditemui dalam acara seminar A Golden Tip To World Class University di Kampus Mercu Buana Jakarta.

Adapun proses pengembangan satelit mikro yang sedang dilaksanakan yakni satelit eksperimen yang keempat dan kelima.

Direncanakan, satelit tersebut akan diluncurkan mulai tahun 2018 dan secara bertahap hingga 2020.

"Untuk saat ini, kita laksanakan pengembangan yang eksperimen terlebih dahulu," paparnya.

Pasca 2020, Lapan akan membuat satelit yang kemudian bisa diluncurkan setiap tahunnya. Sebab, dibutuhkan anggaran dan SDM yang mencukupi.

Oleh karena itu, Lapan telah membuat perencanaan agar pengembangan satelit tetap berjalan sesuai target. Mengingat perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan hal lainnya yang membutuhkan pantauan menggunakan satelit.

"Banyak sekali yang dapat disampaikan oleh satelit ini. Misalnya saja gambaran suatu daerah atau pengawasan pencurian ikan dari kapal - kapal yang bisa dipantau dari satelit pergerakannya," ujarnya.

  antara