Tampilkan postingan dengan label BPPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BPPT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juni 2017

BPPT Kerjasama Peningkatan Kecepatan Kereta Jakarta-Surabaya

Dari rencana pra-FS, kecepatan maksimal hanya 160 km/jam Kereta Bima Express (Bagus Widyanto / commons.wikimedia.org)

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan menandatangani nota kesepahaman (MoU) prastudi kelayakan peningkatan kecepatan Kereta Api Jakarta-Surabaya.

"Kerja sama ini dilakukan untuk memperoleh gambaran objektif dalam rangka pengambilan keputusan mengenai pemilihan teknologi, perancangan dasar pada koridor jalur kereta api terpilih, skema pembiayaan serta rencana implementasi proyek," ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto di Gedung Rektorat ITB, Kota Bandung, Selasa.

Unggul mengatakan, kerja sama ini dilakukan berdasarkan perintah dari Kementerian Perhubungan untuk melakukan kajian awal atau pre-feasibility studies (pra-FS) dengan menggandeng tiga Perguruan Tinggi yakni ITB, Universitas Diponegoro, dan Institut Teknologi Sepuluh November.

"Diputuskan akan mengambil keputusan kecepatan berapa. Nanti akan ada kajian per wilayah. Jakarta-Cirebon oleh ITB, Cirebon-Semarang oleh Undip, dan Semarang-Surabaya oleh ITS," kata dia.

Kerja sama tiga PT ini akan membantu tim perekayasa BPPT dalam menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang singkat. Selain itu, juga diharapkan dalam memanfaatkan laboratorium mekanika tanah untuk melakukan survei geoteknik.

Sebelumnya, pembangunan kereta api ini diharapkan dapat menyamai kecepatan KA Jakarta-Bandung yang bisa mencapai 300 km/jam. Namun dari rencana pra-FS, BPPT menyimpulkan maksimal kecepatan maksimal hanya 160 km/jam.

"Nah karena itu, PT KAI pengennya 6-7 jam. Ada juga semula Kemenhub lebih tinggi lagi kecepatannya, nanti dilihat kecepatan segitu bisa capai 4-5 jam. Maunya sama seperti Jakarta-Bandung, tapi kalau itu biayanya terlalu mahal," kata dia.

Dengan adanya kereta api Jakarta-Surabaya, kata dia, dapat menjadi jawaban atas padatnya arus lalu lintas udara Jakarta-Surabaya. Jika dikalkulasikan kecepatan kereta yang mencapai 160 km/jam bisa mendekati layanan penerbangan antar dua kota.

"Intinya, dapat mengalihkan (penumpang) dari udara ke kereta api, harganya pun nanti tidak akan jauh dengan tiket pesawat," kata dia.

Pra studi kelayakan ini direncanakan berakhir di bulan Desember 2017 dan BPPT akan menyerahkan laporan studi kepada Kementerian Perhubungan, dan Direktorat Jendral Perkeretaapian.

"Setelah studi selesai, pemerintah akan memutuskan kapannya. Kalau sudah disetujui, bisa diketahui, kapannya (pembangunan) tergantung kondisi keuangan," kata dia.

Sementara itu, Rektor ITB Kadarsah Suryadi menyambut baik kerjasama tersebut. Pihaknya akan membantu dengan menerjunkan tim dari ITB untuk melakukan studi baik dari sisi geohidrologi, geofisika, analisis data, perancangan, analisis teknik, termasuk kontur kebumian.

"Senang hati kami siap membantu kelancaran apa yang dikerjakan di BPPT. Salah satu cara berkolaborasi membantu apa yang ada di BPPT. Dengan kerjasama beban akan semakin ringan," kata dia.

Suryadi mengatakan, pihaknya pun siap membantu pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia saat kereta mulai beroperasional.

"Kami siap bergabung menyiapkan SDM, maupun mendukung penyediaan suku cadang. Memproduksi pasti industri, tapi desain suku cadang kami bisa berkontribusi," katanya.


  ★ Sinar Harapan  

Minggu, 21 Mei 2017

Drone BPPT Sukses Terbang Selama Tujuh Jam

Drone Alap alap PA4 BPPT [sapub] 

Tim peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan sukses menerbangkan drone buatan mereka selama tujuh jam tanpa henti dalam uji coba pesawat udara nir-awak yang dinamakan Alap-alap PA4 itu di Pangandaran, Jawa Barat, Minggu.

Keterangan melalui layanan pesan telepon seluler yang dikirimkan Humas BPPT, Minggu, menyebutkan, selama terbang selama tujuh jam itu, drone Alap-alap menjelajah wilayah sejauh 623 km, menempuh jarak terjauh 100 km pada ketinggian 5.000 kaki.

Dalam misi tes ketahanan itu, Alap-alap PA 4 selesai melakukan misi pemetaan seluas 750 ha, sesuai dengan misi yang diembannya, yaitu pemetaan udara dan pengawasan dari udara.

Kepala program Drone BPPT Joko Purwono, seperti dikuti pesan itu, menyatakan, gimbal (rumah kamera) yang dibawa drone itu dapat memonitor visual dari udara secara daring.

Disebutkan, keunggulan drone Alap-alap PA4 adalah dapat melakukan pemetaan pada lokasi sejauh 50-80 km. Kemampuan pemetaan lebih dari 2.600 hektare perjam terbang dengan resolusi 13 cm/pixel.

Menurut Joko, drone Alap-alap PA4 sangat efisien dalam membantu pengawasan kawasan hutan, karena hutan seluas satu juta ha dapat dipetakan dalam 76 hari terbang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan disebut perlu memiliki skuadron drone Alap-alap untuk membantu mengawasi kawasan hutan di Sumatera dan Kalimantan yang luasnya jutaan hektare. Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu W Pandoe menyatakan, pihaknya akan berupaya keras untuk mewujudkan agar drone hasil karya BPPT itu dapat dimanfaatkan oleh institusi pemerintah yang memerlukan, baik untuk keperluan militer maupun sipil.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional dijadikan BPPT sebagai tonggak agar drone itu dapat dimanfaatkan untuk kedaulatan Tanah Air.

  antara